Kupang — Pengamat ekonomi regional Dr. James Adam menilai pemerintah perlu mengambil langkah strategis lintas kementerian untuk mengantisipasi dampak dinamika geopolitik global terhadap stabilitas ekonomi nasional, khususnya dampak perang AS-Israel.
Ia menekankan antisipasi harus dilakukan sejak dini, tidak menunggu dampak membesar baru kemudian merespons. Menurutnya, koordinasi lintas kementerian serta pemantauan kondisi ekonomi global secara real time menjadi kunci agar kebijakan dapat diambil cepat dan tepat sasaran.
Dr. James Adam menyebut ketidakpastian global akibat konflik AS-Iran berpotensi mempengaruhi stabilitas perdagangan, sektor energi, serta arus keuangan internasional. Karena itu, ia mendorong penguatan sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan perdagangan untuk meredam gejolak dari luar negeri.
Ia juga menilai koordinasi lintas kementerian dan lembaga penting untuk merumuskan skema kebijakan ekonomi yang adaptif sesuai kondisi perekonomian nasional saat ini. Bentuk kebijakan yang dapat dipertimbangkan antara lain penguatan cadangan energi, pengendalian inflasi, menjaga stabilitas nilai tukar, hingga perlindungan terhadap sektor-sektor produktif yang rentan terdampak.
James mengatakan perang AS-Iran akan berdampak pada ekonomi global karena perdagangan internasional berpotensi terganggu. Ia menyebut dampak awal sudah terlihat, antara lain pembatalan atau penundaan sejumlah penerbangan internasional.
Jika konflik berlanjut, menurutnya gangguan dapat meluas pada distribusi barang dan jasa, keuangan global, serta perdagangan internasional secara umum. Ia menilai banyak negara kemungkinan mengambil strategi ekonomi jangka pendek, yang pada akhirnya turut memengaruhi sektor perdagangan dunia.
“Indonesia walaupun secara geografis letaknya jauh dari lokasi perang tetapi pasti menerima dampak tersebut. Perdagangan luar negeri (ekspor dan impor) pasti terganggu karena sistem distribusi barang dan jasa tertunda,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai langkah antisipasi jangka pendek diperlukan, terutama terkait kebijakan perdagangan luar negeri agar tidak mengganggu perekonomian nasional.
Selain perdagangan, ia juga menyoroti potensi dampak pada harga minyak dunia akibat gangguan produksi dan distribusi. Jika harga minyak global naik, kata dia, kondisi itu dapat memengaruhi harga minyak dalam negeri dan berpotensi memicu penyesuaian harga apabila tidak ada subsidi.
Ia menambahkan, kenaikan harga minyak dapat berdampak pada harga emas dan barang lainnya. Menurutnya, jika harga minyak dalam negeri naik, maka harga kebutuhan pokok juga berisiko meningkat karena rantai pasok terganggu seiring naiknya biaya produksi dan distribusi.

