Pemerintah menyoroti tren konsumsi rumah tangga yang melemah sebagai salah satu risiko utama bagi perekonomian pada tahun depan. Penguatan daya beli, khususnya pada kelompok kelas menengah, dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga laju pertumbuhan nasional.
Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional, Luthfi Ridho, menilai peluang peningkatan pendapatan kelompok menengah masih terbuka sehingga kepercayaan diri untuk berbelanja perlu diperkuat. “Tren konsumsi rumah tangga turun, dan ini yang ingin kami balikkan,” kata Luthfi dalam siaran pers kepada Marketeers, Jumat (14/11/2025).
Menurut Luthfi, terdapat dua kebijakan utama yang akan diarahkan untuk mendukung pemulihan daya beli pada tahun mendatang. Kebijakan tersebut mencakup penyusunan formula upah minimum provinsi yang seimbang serta perbaikan aturan investasi, termasuk ketentuan tingkat kandungan dalam negeri.
Ia berharap langkah itu dapat membantu menjaga kompetisi ekonomi, terutama ketika tekanan terhadap konsumsi masih berlanjut. Sinergi kebijakan juga dipandang penting agar pemulihan tidak hanya bertumpu pada satu sektor.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal III sebesar 5,04% secara tahunan. Capaian ini dinilai cukup baik di tengah berbagai tekanan permintaan domestik.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyebut hasil kuartal III tersebut sejalan dengan ekspektasi awal. Ia menilai peluang pemulihan akan semakin besar apabila konsumsi kelas menengah dapat ditingkatkan. “Pertumbuhan tahun depan berpeluang lebih baik dari tahun ini,” ujar Josua.
Josua menjelaskan data BPS menunjukkan adanya perlambatan musiman pada konsumsi rumah tangga pada periode tersebut. Meski demikian, motor pertumbuhan ekonomi masih berasal dari konsumsi, diikuti investasi serta perdagangan luar negeri. Menurutnya, pemulihan daya beli kelas menengah diperlukan agar kontribusi konsumsi kembali stabil, sementara optimisme penting untuk menjaga permintaan sekaligus menahan risiko perlambatan lanjutan.
Sementara itu, Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence, Sunarsip, menilai pertumbuhan 5,04% pada kuartal III berada pada level optimal. Ia menilai situasi sosial dan politik pada periode tersebut membatasi aktivitas usaha dan konsumsi. “Angka 5,04% ini bagus, optimal menurut saya,” tutur Sunarsip.
Sunarsip menambahkan, konsumsi pemerintah menjadi penopang penting saat permintaan rumah tangga melemah. Tanpa dorongan tersebut, ia memperkirakan pertumbuhan bisa turun di bawah 5%. Ia menyarankan fokus kebijakan diarahkan pada perbaikan sisi suplai untuk membuka lebih banyak lapangan kerja, serta mengatasi hambatan pembiayaan agar sektor riil dapat bergerak lebih cepat.
Ke depan, pemerintah diharapkan mampu menggabungkan strategi dari sisi permintaan dan suplai agar prospek ekonomi tetap terjaga. Kebijakan yang konsisten dinilai dibutuhkan untuk mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah tekanan konsumsi rumah tangga.

