Pemerintah memproyeksikan momen mudik Idul Fitri akan kembali mendorong aktivitas ekonomi, terutama melalui kenaikan konsumsi rumah tangga. Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyatakan, berdasarkan data historis, konsumsi rumah tangga pada masa mudik diperkirakan meningkat 15–20 persen dibandingkan bulan normal.
Kenaikan konsumsi tersebut dinilai turut mengalir ke daerah dan berdampak pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Haryo menyebut pendapatan UMKM di daerah berpotensi meningkat hingga 50–70 persen. Ia menjelaskan, pengeluaran pemudik dapat menciptakan efek pengganda yang memberi dampak berlapis bagi pelaku ekonomi, termasuk UMKM, pedagang, serta sektor jasa transportasi. Aktivitas ini juga disebut berkontribusi pada peningkatan pendapatan dari sektor perdagangan dan jasa.
Menurut Haryo, kajian Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan aktivitas mudik berkontribusi sekitar 1,5 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan. Kontribusi itu dikaitkan dengan redistribusi aliran uang dari pusat kegiatan ekonomi ke berbagai wilayah, sehingga peredaran uang menjadi lebih merata dan dampak ekonomi meluas.
Untuk menjaga daya beli masyarakat menjelang Lebaran, pemerintah menyiapkan sejumlah stimulus. Haryo menyebut alokasi stimulus pajak lebih dari Rp12,8 triliun, penyaluran bantuan sosial Rp11,92 triliun kepada 5,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM), serta diskon tarif transportasi sebesar Rp911,16 miliar. Pemerintah juga menyatakan komitmen untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi saat ini.
Pemerintah berharap konsumsi selama periode mudik dapat membantu pencapaian target pertumbuhan ekonomi 5,5–5,6 persen tahun ini, lebih tinggi dibanding capaian tahun lalu sebesar 5,1 persen. Haryo menambahkan, dengan porsi konsumsi rumah tangga yang mencapai sekitar 53–54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), stimulus yang disalurkan diproyeksikan memberi dampak positif terhadap kinerja ekonomi nasional.
Di tengah tekanan global yang disebut dipengaruhi konflik Iran dan Israel-AS, Haryo menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Ia menyatakan pemerintah tetap optimistis kondisi ekonomi tahun ini dapat lebih baik dibanding tahun sebelumnya.