Pemerintah mewaspadai potensi lonjakan harga minyak dunia seiring eskalasi konflik Iran dan Israel. Risiko dinilai meningkat apabila gangguan meluas hingga jalur pelayaran Selat Hormuz, yang merupakan salah satu titik strategis distribusi minyak global. Jika jalur tersebut terganggu atau ditutup, biaya produksi dan harga barang di dalam negeri berpotensi ikut naik.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah telah menyiapkan langkah pencegahan untuk meredam dampak ekonomi global. Ia menilai, berdasarkan pengalaman konflik sebelumnya, dampaknya belum signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Meski demikian, ia menekankan risiko tetap terbuka apabila gangguan meluas ke Selat Hormuz.
Indonesia masih mengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM), sehingga rentan terhadap kenaikan harga energi global. “Kalau harga minyak naik, biaya produksi dan transportasi ikut naik. Dampaknya bisa terasa pada harga barang,” kata Budi di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin.
Menurut Budi, sektor manufaktur dan ekspor menjadi yang paling terpapar karena kenaikan biaya logistik dan bahan baku. Namun ia menambahkan, tekanan tersebut bersifat global dan tidak hanya dialami Indonesia.
Untuk menjaga stabilitas, pemerintah mengandalkan konsumsi domestik sebagai penopang pertumbuhan. Budi menyebut belanja rumah tangga selama ini menjadi motor utama ekonomi nasional. Di sisi lain, pemerintah juga mendorong diversifikasi pasar ekspor ke negara-negara yang relatif tidak terdampak konflik agar arus perdagangan tetap stabil di tengah ketidakpastian.
Menjelang Lebaran, pemerintah disebut memaksimalkan berbagai stimulus ekonomi dan memperkuat kerja sama dengan sektor swasta guna menjaga daya beli masyarakat. “Kita jaga momentum konsumsi dan perputaran ekonomi dalam negeri,” ujar Budi.

