Keluhan serupa terdengar dari sejumlah pasar tradisional di Medan: biaya transportasi dan logistik dinilai semakin mahal, sementara ruang untuk menaikkan harga jual terbatas. Pedagang menyebut kondisi itu membuat margin keuntungan menipis meski barang dagangan masih tetap laku.
Dari lapak sayur hingga rempah, pedagang menilai ongkos angkut menjadi komponen biaya yang paling cepat berubah. Kenaikan biaya tidak hanya muncul saat pengiriman dari pemasok, tetapi juga pada distribusi kecil di dalam kota, termasuk layanan antar yang kini makin sering diminta pelanggan. Dalam situasi persaingan antarlapak yang ketat, pedagang mengaku tidak selalu bisa serta-merta menaikkan harga karena khawatir pembeli beralih ke penjual lain.
Tekanan biaya itu semakin terasa pada pasar yang aktivitasnya menurun dan fasilitasnya kurang terawat. Sejumlah pedagang menyebut ada pasar yang mengalami kebocoran atap sehingga mereka harus memindahkan barang saat hujan. Kondisi tersebut memunculkan biaya tambahan yang tidak selalu terlihat, seperti kerusakan barang akibat basah, penyusutan kualitas, dan tenaga ekstra untuk bongkar-pasang lapak. Di saat yang sama, pedagang menyebut pasar bisa lebih sepi, sehingga biaya tetap terasa lebih berat karena ditopang oleh transaksi yang lebih sedikit.
Pedagang juga menyoroti iuran yang tetap berjalan. Di tengah pendapatan yang tidak selalu stabil, kewajiban iuran dinilai menambah beban operasional. Kombinasi ongkos angkut yang naik, pasar yang tidak selalu ramai, serta biaya rutin yang tetap harus dibayar membuat pedagang merasa ruang geraknya semakin sempit.
Upaya stabilisasi harga komoditas tertentu, seperti cabai, pernah dilakukan melalui intervensi pasokan. Namun pedagang menilai dampaknya terhadap harga eceran tidak selalu signifikan. Mereka menyebut harga hanya turun tipis karena dipengaruhi pasokan, penyusutan barang, serta distribusi yang tidak selalu tepat waktu dan tepat sasaran. Dalam pandangan pedagang, biaya transportasi dan penanganan barang yang tinggi membuat penurunan harga dari sisi pasokan tidak selalu utuh dirasakan hingga tingkat ritel.
Pedagang mengaitkan tekanan biaya di tingkat lapak dengan dinamika yang lebih luas. Mereka melihat perubahan pola belanja ikut memengaruhi arus pembeli, termasuk penggunaan pembayaran nontunai seperti QRIS dan meningkatnya belanja melalui marketplace, video commerce, serta kanal digital lain. Di sisi lain, perubahan tersebut tidak otomatis menurunkan ongkos angkut atau memperbaiki tantangan distribusi yang mereka hadapi setiap hari.
Di tengah situasi itu, sejumlah solusi mengemuka dalam pembicaraan pedagang. Mereka mendorong perbaikan manajemen pasar dan fasilitas dasar, termasuk penataan area bongkar-muat. Selain itu, pedagang menilai jalur distribusi yang lebih rapi serta konsolidasi pengiriman antarpedagang dapat membantu menekan biaya. Sebagian pedagang juga mulai beradaptasi dengan kanal digital, misalnya melayani pesanan melalui pesan singkat, meski model ini dinilai dapat memunculkan biaya tambahan seperti kemasan dan pengantaran.
Keluhan pedagang pada akhirnya bermuara pada pertanyaan yang sama: ketika biaya transportasi terus naik, beban penyesuaian akan jatuh ke siapa—pedagang, konsumen, atau keduanya. Bagi pedagang pasar tradisional di Medan, jawaban atas pertanyaan itu sangat bergantung pada perbaikan distribusi, pengelolaan pasar, serta kemampuan mereka beradaptasi di tengah perubahan pola belanja.

