Ekonomi Jepang mengalami kontraksi pada kuartal III-2025. Produk domestik bruto (PDB) Jepang tercatat turun 1,8 persen secara tahunan (year on year/yoy), dengan konsumsi pemerintah dan rumah tangga membantu menahan pelemahan.
Data pemerintah yang dirilis Senin (17/11/2025) menunjukkan PDB menyusut 0,4 persen secara kuartalan pada periode Juli–September. Ini menjadi kontraksi pertama setelah enam kuartal sebelumnya tidak mencatat penyusutan.
Angka tersebut lebih baik dibanding proyeksi jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kontraksi 2,5 persen secara tahunan dan 0,6 persen secara kuartalan.
Dari sisi permintaan, permintaan publik naik 2,2 persen secara tahunan, ditopang konsumsi pemerintah. Sementara itu, permintaan swasta turun 1,8 persen, dipengaruhi penurunan investasi residensial yang tercatat merosot lebih dari 32 persen.
Kinerja ekspor turut melemah. Ekspor turun 4,5 persen secara tahunan dan 1,2 persen dibanding kuartal sebelumnya. Pada kuartal II, ekspor sempat meningkat 2,3 persen.
Di pasar keuangan, yen melemah tipis terhadap dolar AS. Indeks Nikkei 225 turun 0,29 persen, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 1,73 persen.
Ekspor Jepang sebelumnya tertekan selama empat bulan sejak Mei akibat tarif Amerika Serikat. Namun, ekspor kembali tumbuh pada September setelah Jepang dan Washington mencapai kesepakatan dagang pada Juli. Dalam kesepakatan itu, tarif AS atas produk Jepang diturunkan dari 25 persen menjadi 15 persen dan berlaku mulai 7 Agustus.
Konsumsi domestik menjadi salah satu penopang ekonomi pada kuartal III. Konsumsi pemerintah naik 0,5 persen dan konsumsi swasta bertambah 0,1 persen dibanding kuartal sebelumnya. Secara keseluruhan, permintaan publik tumbuh 0,5 persen secara kuartalan dan menyumbang 0,1 poin persentase terhadap ekonomi.
Di sisi lain, permintaan swasta menjadi penekan utama PDB. Permintaan ini turun 0,4 persen secara kuartalan dan mengurangi pertumbuhan 0,3 poin persentase, sejalan dengan anjloknya investasi residensial sebesar 9,4 persen.
Principal Economist S&P Global Market Intelligence, Harumi Taguchi, memperkirakan ekonomi Jepang akan kembali pulih. Ia menilai dampak regulasi perumahan baru akan berkurang, setelah Jepang mewajibkan standar konservasi energi yang lebih ketat untuk proyek baru mulai 1 April 2024.
Taguchi juga menyebut meredanya ketidakpastian tarif AS serta kesepakatan AS–China untuk menurunkan tarif timbal balik ikut mendorong pesanan dari Jepang.
Lemahnya pertumbuhan diperkirakan memperkuat rencana Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk menggenjot stimulus ekonomi. Pemerintah disebut menyiapkan paket yang berfokus pada investasi “berani dan strategis” untuk manajemen krisis dan sektor pertumbuhan.
Mengacu pada draf yang diperoleh Reuters, pemerintah Jepang akan menambah belanja “tanpa ragu” guna mendukung ekonomi yang mulai keluar dari stagnasi. Investasi juga akan diarahkan ke sektor pertumbuhan utama seperti kecerdasan buatan, semikonduktor, dan industri perkapalan.
Nikkei sebelumnya melaporkan nilai paket stimulus tersebut lebih dari 10 triliun yen (64,63 miliar dollar AS). Program itu mencakup subsidi listrik dan gas, serta dukungan bagi usaha kecil dan menengah untuk menaikkan upah.

