BERITA TERKINI
PayLater di Kalangan Anak Muda: Kemudahan Transaksi atau Risiko Utang Konsumtif?

PayLater di Kalangan Anak Muda: Kemudahan Transaksi atau Risiko Utang Konsumtif?

Dalam beberapa tahun terakhir, layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater kian marak di Indonesia. Opsi pembayaran ini hadir di berbagai platform, mulai dari e-commerce, layanan transportasi online, hingga perjalanan, dengan skema membeli sekarang dan membayar belakangan.

Bagi generasi milenial dan Gen Z, PayLater kerap dipandang sebagai solusi praktis di tengah gaya hidup digital. Tanpa kartu kredit dan tanpa proses perbankan yang dinilai rumit, pengguna dapat bertransaksi hanya lewat beberapa klik di ponsel. Namun, kemudahan tersebut memunculkan pertanyaan: apakah PayLater membantu pengelolaan keuangan anak muda, atau justru membuka jalan pada utang konsumtif?

Tren PayLater tak lepas dari perkembangan teknologi finansial (fintech) yang memperluas akses kredit secara digital. Data menunjukkan pengguna PayLater didominasi kelompok usia muda, dengan sekitar 26,5 persen berada pada rentang 18–25 tahun dan 43,9 persen pada usia 26–35 tahun. Kelompok ini merupakan usia produktif yang aktif menggunakan layanan digital.

Ada sejumlah faktor yang mendorong popularitas PayLater. Proses pendaftaran dinilai mudah karena umumnya cukup melalui verifikasi identitas digital tanpa dokumen yang dianggap berbelit. Pengguna juga mendapat fleksibilitas, seperti pilihan cicilan bulanan atau penundaan pembayaran selama beberapa minggu. Selain itu, berbagai promo dan diskon khusus sering kali hanya berlaku bila memakai PayLater, sehingga layanan ini terasa seperti “uang tambahan” yang selalu tersedia di aplikasi.

Di sisi lain, para ahli keuangan mengingatkan potensi risiko dari akses kredit yang terlalu mudah. Salah satu yang disorot adalah konsumsi impulsif, yakni kebiasaan membeli tanpa perencanaan karena pembayaran dapat ditunda. Budaya digital seperti FOMO (Fear of Missing Out) dan YOLO (You Only Live Once) yang menguat di media sosial turut memperbesar dorongan mengikuti tren, mulai dari gadget, fesyen, hingga liburan.

Dalam konteks ini, PayLater kerap digunakan bukan untuk kebutuhan penting, melainkan untuk menunjang gaya hidup. Data menunjukkan sekitar 66,4 persen penggunaan PayLater dipakai untuk membeli produk fesyen, yang mengindikasikan sebagian besar transaksi bersifat konsumtif.

Regulator juga menaruh perhatian pada fenomena ini. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan PayLater dapat memicu over-indebtedness, yaitu kondisi ketika seseorang memiliki utang yang terlalu besar dibanding kemampuan finansialnya. Menurut OJK, kemudahan kredit digital berpotensi membuat anak muda menumpuk cicilan dari berbagai layanan tanpa disadari. Bahkan, terdapat kasus di mana cicilan PayLater mencapai hingga 95 persen dari penghasilan pengguna.

Dampaknya tidak hanya berhenti pada tagihan bulanan. Dalam beberapa kasus, riwayat pembayaran PayLater tercatat dalam sistem informasi kredit lembaga keuangan. Bila pengguna menunggak, catatan tersebut dapat memengaruhi skor kredit. Ada laporan yang menyebut sebagian anak muda kesulitan mengajukan kredit perumahan atau pinjaman bank karena memiliki tunggakan PayLater, meski nilai utangnya relatif kecil, seperti ratusan ribu rupiah. Catatan kredit macet tetap dapat memengaruhi penilaian bank, sehingga keputusan finansial yang tampak kecil berpotensi berdampak lebih luas.

Meski demikian, PayLater tidak selalu berdampak negatif. Jika digunakan secara bijak, layanan ini dapat membantu mengatur arus kas, misalnya untuk kebutuhan mendesak ketika belum menerima gaji atau membeli barang penting dengan cicilan yang terukur. Dalam situasi tertentu, fungsinya mirip kartu kredit, yakni memberi fleksibilitas pembayaran.

Karena itu, literasi keuangan menjadi kunci. Pakar keuangan menekankan pentingnya pemahaman manajemen utang agar pengguna tidak terjebak dalam siklus cicilan yang sulit dihentikan. Sebaliknya, dengan pemahaman yang memadai atas manfaat dan risikonya, PayLater dapat menjadi alat finansial yang berguna. Sejumlah lembaga keuangan pun mendorong edukasi finansial bagi generasi muda agar teknologi keuangan dapat dimanfaatkan secara lebih bertanggung jawab.

Fenomena PayLater di kalangan anak muda mencerminkan perubahan besar dalam lanskap keuangan digital. Layanan ini menawarkan kemudahan dan fleksibilitas yang sebelumnya sulit diakses tanpa kartu kredit, namun juga membawa risiko bila digunakan tanpa perencanaan. Pada akhirnya, PayLater adalah alat—apakah menjadi solusi atau jerat utang sangat bergantung pada disiplin pengguna dalam mengelola keuangan.