Direktur Jenderal ACBS Nguyen Duc Hoan menilai pasar saham Vietnam perlu “mengubah fase” agar mampu memanfaatkan peluang arus modal asing senilai sekitar US$3–5 miliar yang diperkirakan masuk seiring potensi peningkatan peringkat pasar. Menurutnya, fondasi ekonomi Vietnam dinilai cukup kokoh, namun pendekatan pertumbuhan lama tidak lagi memadai untuk menghadapi siklus baru dan dinamika global yang kian sulit diprediksi.
Memasuki 2026, Vietnam disebut memiliki banyak harapan positif untuk memasuki siklus pertumbuhan baru. Namun, ketidakstabilan geopolitik dan ketegangan perdagangan yang cenderung meluas dinilai tetap menekan rantai pasok global, perdagangan, serta arus modal internasional. Dalam situasi tersebut, target pertumbuhan PDB 10% dipandang akan menjadi tantangan jika Vietnam tidak menggeser pilar pertumbuhannya.
Hoan menyampaikan perekonomian perlu berangsur mengurangi ketergantungan pada investasi asing langsung (FDI) dan aktivitas impor-ekspor, lalu memperkuat daya dorong domestik serta meningkatkan efisiensi operasional di berbagai sektor. Ia menilai langkah ini bukan hanya kebutuhan struktural jangka panjang, tetapi juga syarat untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan ketika lingkungan eksternal berubah cepat.
Dari sisi makro, Vietnam disebut mempertahankan stabilitas politik dan kondisi makroekonomi yang relatif stabil. Target pertumbuhan kredit 15% dinilai dapat dicapai dan masih aman bagi sistem perbankan. Inflasi juga disebut terkendali, didukung biaya bahan bakar yang rendah, sehingga membuka ruang kebijakan dalam pengelolaan ekonomi.
Untuk 2026, pendorong pertumbuhan diperkirakan datang dari beberapa pilar. Pencairan investasi publik, terutama proyek infrastruktur transportasi utama, dinilai dapat menimbulkan efek berantai bagi sektor konstruksi, material, dan logistik. Program perumahan sosial dan urbanisasi juga diperkirakan terus mendorong permintaan agregat serta investasi swasta.
Sektor jasa—khususnya pariwisata—dinilai menjadi pendorong penting. Vietnam diperkirakan menyambut sekitar 21 juta pengunjung internasional pada 2025, meningkat lebih dari 20% dan melampaui tingkat pra-pandemi. Pendapatan pariwisata dan jasa terkait diproyeksikan melampaui 1 triliun VND.
Sementara itu, FDI dan impor-ekspor yang selama hampir dua dekade menjadi mesin pertumbuhan dinilai masih berkelanjutan. Pada 2025, ekspor diproyeksikan naik 17% dan impor 19,4%, meski terdapat kerugian akibat tarif dari Amerika Serikat. Perjanjian perdagangan bilateral dan multilateral yang telah ditandatangani disebut tetap mendukung pertumbuhan pada 2026.
Meski landasan makro dinilai positif, Hoan menekankan siklus pertumbuhan baru tidak bisa hanya bertumpu pada ekspansi, melainkan perlu bergeser ke peningkatan kualitas dan efisiensi. Pergeseran ini dinilai penting bagi pasar saham, terutama dalam konteks peluang peningkatan peringkat pasar.
Dalam pandangannya, tinjauan FTSE Russell pada Maret menjadi momen penting, dan peluang peningkatan peringkat pasar saham Vietnam dinilai sangat tinggi. Ia menyebut FTSE Russell telah bekerja sama dengan Komisi Sekuritas Negara, VNX, dan bursa untuk menyelesaikan langkah teknis pascapeningkatan peringkat, yang mengindikasikan proses telah bergerak dari evaluasi menuju persiapan implementasi.
Hoan menilai dampak peningkatan peringkat tidak hanya bersifat psikologis. Bagi investor domestik, hal itu dipandang sebagai konfirmasi atas upaya reformasi bertahun-tahun dan dapat memperkuat kepercayaan terhadap tren pertumbuhan jangka menengah-panjang. Bagi investor asing, Vietnam berpotensi masuk daftar alokasi wajib banyak dana investasi global, terutama dana indeks pasar negara berkembang, yang dinilai dapat meningkatkan likuiditas, standar tata kelola, dan tingkat valuasi.
Dalam skenario dasar laporan strategis ACBS, VN-Index pada 2026 diperkirakan dapat mencapai sekitar 2.040 poin, sejalan dengan ekspektasi pertumbuhan laba perusahaan, lingkungan suku bunga yang mendukung, serta dorongan dari peningkatan peringkat. Dalam skenario yang lebih menguntungkan—dengan arus masuk modal asing kuat dan sentimen pasar menguat—pertumbuhan dua digit dinilai memungkinkan.
Hoan juga menilai arus modal asing tidak harus menunggu peningkatan peringkat resmi berlaku pada September untuk mulai bergerak. Menurutnya, proses antisipasi sudah berlangsung, dengan periode hingga September menjadi fase akumulasi melalui masuknya modal secara selektif. Setelah peningkatan peringkat resmi berlaku, arus modal diperkirakan meningkat, termasuk dari dana aktif berskala besar dan sebagian ETF yang melakukan penyesuaian portofolio.
Total arus modal terkait peningkatan peringkat dalam jangka menengah diperkirakan sekitar US$3–5 miliar dan akan masuk bertahap, bukan sekaligus. Arus terkuat, khususnya dari dana pasif yang mengikuti indeks FTSE Emerging Markets, diperkirakan berpotensi terjadi pada akhir 2026 atau awal 2027. Dengan demikian, 2027 dinilai dapat menjadi periode arus modal asing yang lebih berkelanjutan dan berskala lebih besar karena Vietnam masuk dalam “radar wajib” banyak dana global.
Namun, Hoan menekankan peningkatan peringkat hanya membuka peluang. Kemampuan memanfaatkan peluang tersebut, menurutnya, sangat bergantung pada struktur pasar dan kualitas aliran modal domestik.
Ia menilai pasar saham Vietnam perlu proaktif melakukan penyesuaian strategi. Dari sisi kebijakan dan infrastruktur, otoritas disebut telah menjalankan proyek peningkatan, meninjau set indeks, menstandarkan proses perdagangan dan penyelesaian, serta memperbaiki pengungkapan informasi. Kementerian Keuangan juga disebut terus menyempurnakan regulasi untuk memudahkan investor asing dan mengurangi hambatan seiring meningkatnya arus modal internasional.
Meski demikian, Hoan menilai faktor teknis saja tidak cukup. Dengan status pasar yang lebih tinggi, arus masuk-keluar modal dinilai akan lebih cepat dan sensitif terhadap guncangan global. Karena itu, ia mendorong pengembangan dana investasi jangka panjang domestik—seperti dana pensiun, dana terbuka, dan ETF domestik—untuk membentuk penopang pasar yang lebih stabil. Peningkatan peran investor institusional dinilai penting agar pasar tidak terlalu bergantung pada arus modal jangka pendek dan untuk membatasi guncangan.
Dari sisi “barang” di pasar, ia menyarankan peningkatan kualitas emiten melalui dorongan pencatatan perusahaan besar dengan tata kelola transparan dan kepatuhan terhadap standar ESG. Ia juga menyoroti perlunya pengembangan produk baru, seperti ETF sektoral, derivatif pada saham individual, obligasi korporasi yang terdaftar secara transparan, serta produk lindung nilai risiko.
Di tingkat pelaku pasar, Hoan menilai perusahaan sekuritas, manajer dana, dan perusahaan tercatat perlu meningkatkan tata kelola, pengendalian risiko, standar pelaporan keuangan, dan pengungkapan informasi. Kapasitas keuangan dinilai perlu diperkuat untuk menghadapi volume transaksi yang lebih besar dan operasi yang lebih kompleks. Layanan investor juga disebut perlu bergeser ke pendekatan yang lebih mendalam, termasuk nasihat yang lebih personal, manajemen portofolio, pemanfaatan analisis data modern, dan transformasi digital.
Dalam konteks internal perusahaan, Hoan menyebut orientasi ACBS pada 2026 adalah pertumbuhan berkelanjutan berbasis pemanfaatan modal yang efisien dan transformasi digital. Perusahaan disebut akan memperluas bisnis modal dengan tetap menjaga pengendalian risiko dan keamanan likuiditas, serta mendiversifikasi sumber pendanaan di dalam dan luar negeri. ACBS juga menyebut pengembangan ekosistem perdagangan digital, termasuk kebijakan biaya margin dan suku bunga yang fleksibel, penguatan sistem perdagangan, serta pengalaman yang lebih personal, termasuk penerapan AI SMARTY untuk dukungan konsultasi 24/7.
Selain itu, seiring meningkatnya jumlah individu dengan kekayaan bersih tinggi, ACBS menyatakan akan memperkuat model Penasihat Investasi dan Manajemen Aset, termasuk kebijakan margin yang stabil, suku bunga kompetitif bagi klien dengan NAV di atas 20 miliar VND, tim manajer portofolio, serta solusi keuangan terintegrasi. Program transformasi digital seperti eKYC, analisis perilaku pelanggan, otomatisasi proses, dan pengembangan produk baru seperti perdagangan obligasi korporasi juga disebut terus dijalankan.

