Jakarta — Musik diprediksi menjadi salah satu tren pariwisata global di Indonesia pada 2026. Sejumlah ahli menilai, industri pariwisata dan perjalanan kini tidak lagi cukup bertumpu pada destinasi semata, melainkan semakin mengarah pada pengalaman yang dirasakan wisatawan. Dalam konteks itu, musik dinilai memiliki daya tarik kuat karena mampu menghadirkan pengalaman emosional.
Pegiat pariwisata musik Penny Hutabarat menjelaskan bahwa pariwisata musik adalah perjalanan yang menjadikan musik sebagai alasan utama yang memotivasi wisatawan untuk berkunjung. Dalam praktiknya, bentuk pariwisata musik dapat berupa konser dan festival, kunjungan ke museum musik, hingga menyusuri kota yang memiliki sejarah panjang dalam industri musik.
Penny memberi contoh beberapa destinasi yang identik dengan pariwisata musik. Di Inggris, wisatawan datang ke Liverpool untuk menapaki jejak The Beatles. Di Amerika Serikat, Nashville menjadi magnet bagi penggemar musik country. Sementara di Asia, Korea Selatan kerap disebut sebagai contoh menonjol bagaimana K-pop mampu menarik jutaan wisatawan mancanegara.
Menurut Penny, kecenderungan wisatawan saat ini adalah mencari pengalaman. Musik, kata dia, menjadi salah satu pengalaman yang paling emosional dan dapat mendorong orang untuk bergerak menuju suatu destinasi.
Secara global, tren pariwisata musik disebut meningkat signifikan. Data Customer Insight 2023 mencatat valuasi pasar music tourism mencapai 6,6 miliar dolar AS dan diperkirakan terus bertumbuh hingga 2032. Perkembangan itu juga terlihat dari penyelenggaraan festival besar seperti Glastonbury dan Coachella yang terus berkembang sejak awal 2000-an.
Di Indonesia, Penny menilai pertumbuhan festival musik secara langsung meningkat tajam dalam beberapa waktu terakhir. Penikmat musik disebut menunjukkan antusiasme tinggi untuk kembali menyaksikan konser. Ia menggambarkan kondisi ini sebagai fase “renaissance” pariwisata musik yang berkembang lebih besar dibanding sebelumnya.
Penny menilai Indonesia memiliki peluang untuk meniru keberhasilan negara-negara yang menjadikan music tourism sebagai motor pertumbuhan ekonomi kreatif. Modalnya, antara lain, kekayaan budaya, keragaman geografis, serta jumlah talenta kreatif yang besar, yang dapat memperkuat musik sebagai daya tarik wisata.
Dari penelitian yang dilakukannya, Penny menyebut dua festival sebagai praktik terbaik pariwisata musik di Indonesia. Pertama, Prambanan Jazz Festival di kawasan Candi Prambanan, Yogyakarta, yang memadukan konser dengan kekuatan warisan budaya. Menurutnya, wisatawan tidak hanya mengejar pertunjukan musik, tetapi juga menikmati keindahan Candi Prambanan dan merasakan kehidupan masyarakat lokal di sekitar kawasan tersebut. Festival tahunan yang umumnya berlangsung selama tiga hari di awal Juli itu juga kerap menjadi momen pertemuan lintas generasi.
Kedua, Ngayogjazz yang digelar berpindah desa setiap tahun di Bantul. Berbeda dari festival besar di kota, Ngayogjazz dinilai menjadi model bagaimana musik dapat menggerakkan ekonomi desa karena melibatkan berbagai elemen masyarakat setempat. Keunikan itu disebut menarik wisatawan mancanegara yang mencari pengalaman lokal autentik.
Pariwisata musik juga dinilai memberi dampak berantai terhadap ekonomi kreatif di daerah. Penyelenggaraan festival tidak hanya menghidupkan panggung musik, tetapi turut menggairahkan aktivitas ekonomi di sekitarnya. UMKM lokal disebut mengalami lonjakan penjualan, sementara peluang kerja musiman terbuka bagi warga, mulai dari kebutuhan teknis panggung, keamanan, logistik, hingga kebersihan.
Dampak lain yang terlihat adalah meningkatnya okupansi hotel dan homestay, terutama di destinasi yang rutin menggelar festival tahunan. Sektor transportasi juga ikut terdorong seiring meningkatnya pergerakan wisatawan, baik melalui penerbangan, kereta, sewa mobil, maupun transportasi lokal.
Tren pariwisata musik Indonesia turut didorong oleh makin banyaknya festival dan promotor yang menghadirkan artis internasional. Fenomena ini disebut menjadi magnet bagi wisatawan, terutama generasi muda, yang rela bepergian ke kota tertentu untuk menyaksikan musisi favorit secara langsung. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah konser internasional juga diikuti peningkatan pemesanan hotel, penjualan tiket transportasi, hingga aktivitas wisata kuliner di sekitar lokasi acara.
Di sisi kebijakan, Kementerian Pariwisata menyatakan musik menjadi salah satu daya tarik yang dihadirkan dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN). Program tersebut disebut mampu menarik lebih dari 8,4 juta pengunjung, meningkat 13,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyebut pada KEN 2024 kenaikan berada di atas 10 persen dan menyumbang Rp 238,2 miliar terhadap produk domestik bruto (PDB). Pemerintah, kata dia, kembali menghadirkan 110 event berbasis budaya, termasuk musik, sebagai daya tarik utama pariwisata.
Penny menekankan bahwa kunci pengembangan pariwisata musik di Indonesia terletak pada autentisitas. Festival musik dinilai tidak cukup hanya menawarkan pertunjukan, melainkan perlu menghadirkan pengalaman menyeluruh, mulai dari interaksi dengan masyarakat, kuliner khas, suasana desa budaya, hingga keindahan alam serta situs warisan budaya yang menjadi latar pertunjukan. Menurutnya, pendekatan ini sejalan dengan konsep “experience economy”, ketika wisatawan datang bukan hanya untuk menonton konser, tetapi untuk membawa pulang memori, emosi, dan keterlibatan langsung dengan budaya lokal.

