Sejumlah pakar di Inggris menilai ambisi Vietnam membangun Pusat Keuangan Internasional (International Financial Centre/IFC) perlu diletakkan dalam kerangka penguatan institusi, kepastian hukum, dan infrastruktur pasar, bukan semata-mata mengandalkan insentif pajak untuk menarik arus modal.
Christine Le, CEO Eastern Horizon Wealth Management sekaligus Ketua Asosiasi Keuangan dan Investasi Vietnam di Inggris, menekankan bahwa IFC bagi Vietnam bukan hanya soal menarik modal, melainkan perubahan posisi dari “penerima modal” menjadi “pengalokasi modal”. Menurutnya, langkah ini mencerminkan peningkatan posisi Vietnam dalam rantai nilai keuangan global dan menjadi inti dari “kekuatan lunak” di bidang keuangan.
Ia merujuk analisis Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyebut negara yang mengendalikan infrastruktur keuangannya—mulai dari sistem pembayaran, mekanisme penilaian aset, hingga proses penyelesaian sengketa—akan memiliki kemampuan membentuk norma pasar. Ketika transaksi internasional berjalan mengikuti aturan yang ditetapkan, negara tersebut tidak hanya memperoleh pendapatan dari biaya layanan, tetapi juga memperluas pengaruh kebijakannya.
Dalam persaingan menarik aliran modal, Le menilai banyak negara masih menitikberatkan pada insentif pajak. Namun, pengalaman internasional menunjukkan bahwa pajak dapat menarik modal dengan cepat, sementara institusi yang kuat menjadi faktor yang mempertahankan modal dalam jangka panjang. Ia mengutip survei Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang menyatakan investor institusional lebih menghargai prediktabilitas kebijakan dan perlindungan hak milik dibanding sekadar insentif pajak.
“Dana pensiun, dana asuransi, dana investasi negara—aliran modal jangka panjang—tidak mencari tempat termurah, mereka mencari tempat teraman dan paling transparan. Pajak adalah alat kompetitif, tetapi supremasi hukum adalah fondasinya. Tanpa fondasi, insentif hanya menciptakan aliran modal jangka pendek yang mudah dibalik,” kata Le.
Ia menyimpulkan, pusat keuangan yang berkelanjutan tidak dapat dibangun hanya dengan insentif pajak. Elemen inti pusat keuangan yang sukses, menurutnya, adalah institusi yang kuat, supremasi hukum yang kokoh, infrastruktur pasar yang terstandarisasi, serta sumber daya manusia berkualitas tinggi. Pajak dapat menjadi katalis, tetapi tidak dapat menjadi strategi inti.
Sementara itu, Alan Sellers, CEO dan pendiri Your Crypto Coach Ltd., menilai supremasi hukum dan institusi tetap menjadi kunci untuk menjaga arus modal jangka panjang. Namun, ia menambahkan bahwa kemampuan memanfaatkan data dan kecerdasan buatan (AI) kini menjadi salah satu penentu daya saing pusat keuangan.
Menurut Sellers, di era AI pusat keuangan tidak hanya dipahami sebagai ruang geografis, tetapi juga ruang data. Daya saingnya semakin ditentukan oleh kekuatan data, bukan oleh gedung-gedung fisik. AI, pembayaran digital, infrastruktur komputasi awan, dan analisis risiko waktu nyata mengubah pusat keuangan menjadi platform pengolahan informasi.
Meski demikian, ia menekankan teknologi hanya meningkatkan efisiensi dan tidak dapat menggantikan kepercayaan. Inti pusat keuangan, menurutnya, tetap pada kepastian hukum, kredibilitas regulator, dan kemampuan menegakkan kontrak. Karena itu, para pelaku di bidang keuangan, hukum, dan regulasi dinilai perlu memahami bahwa teknologi disruptif seperti AI bukan solusi untuk semua persoalan.
Sellers juga mengingatkan pusat keuangan baru berpotensi mengambil jalan pintas dalam pembangunan infrastruktur digital, misalnya melalui integrasi digital atau mekanisme pengawasan cerdas. Namun, langkah tersebut tidak boleh mengabaikan lapisan dasar kepercayaan institusional. Teknologi dapat mempercepat pengembangan, tetapi institusi menjadi penjamin keberlanjutan jangka panjang.
Terkait dampak AI pada tenaga kerja, Sellers memperkirakan AI tidak akan menghapus pekerjaan di sektor keuangan, melainkan mengubahnya. Pekerjaan yang berulang dan berbasis proses akan semakin diotomatisasi, sementara kebutuhan akan ahli ilmu data, tata kelola AI, keamanan siber, analisis kebijakan, serta desain arsitektur keuangan yang kompleks akan meningkat.
Ia melihat pergeseran struktur tenaga kerja dari “pemrosesan transaksi” ke “pemantauan sistem”, dari pekerjaan operasional ke manajemen risiko strategis. Dalam jangka panjang, daya saing pusat keuangan dinilai semakin bergantung pada kualitas sumber daya manusia dan kemampuan digital, bukan pada besarnya jumlah tenaga kerja. Sellers menilai salah satu manfaat terbesar AI adalah membantu profesional fokus pada layanan bernilai tambah bagi pelanggan, alih-alih layanan yang terstandarisasi, berbasis proses, dan sensitif terhadap harga.
Menjawab pertanyaan tentang potensi Vietnam sebagai pusat yang menjembatani ASEAN, Asia Timur, dan Barat, Christine Le menegaskan Vietnam perlu menyiapkan tiga fondasi utama: kerangka hukum sesuai standar internasional, infrastruktur pasar modal dan pembayaran yang saling terhubung secara regional, serta lingkungan kebijakan jangka panjang yang stabil dan dapat diprediksi. Jika ketiganya terpenuhi, Vietnam dinilai tidak hanya dapat menarik modal, tetapi juga menjadi pusat transit modal untuk bidang seperti pembiayaan rantai pasokan, keuangan hijau, dan teknologi keuangan lintas batas.

