Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menilai kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan sepanjang 2025 berada dalam kondisi stabil dan tetap resilien di tengah dinamika perekonomian nasional maupun global. Kepala OJK Sulselbar Moch Muchlasin menyatakan stabilitas tersebut mencerminkan daya tahan sistem keuangan daerah dalam menopang aktivitas ekonomi secara berkelanjutan.
Menurut Muchlasin, stabilitas sektor jasa keuangan tercermin dari sejumlah indikator utama di sektor perbankan, pasar modal, serta industri keuangan non-bank (IKNB) yang dinilai terjaga dan tumbuh positif. Kondisi itu, kata dia, turut memberi kontribusi terhadap penguatan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan.
Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan tercatat sebesar 5,43 persen, lebih tinggi dibanding 2024 yang berada di angka 5,02 persen. Muchlasin menyebut capaian tersebut menunjukkan sektor keuangan tidak hanya berperan sebagai penopang stabilitas, tetapi juga sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Dari sisi perbankan, OJK mencatat pada posisi Desember 2025 total aset perbankan di Sulawesi Selatan tumbuh 5,33 persen (year on year/yoy) menjadi Rp214,32 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) meningkat 9,74 persen (yoy) menjadi Rp146,61 triliun.
Komposisi DPK di Sulawesi Selatan didominasi tabungan dengan porsi 59,92 persen, disusul deposito 25,23 persen dan giro 14,85 persen. Sementara itu, kredit yang disalurkan tumbuh 5,26 persen (yoy) dengan nominal Rp172,92 triliun. Pertumbuhan kredit pada 2025 lebih tinggi dibanding 2024 yang sebesar 4,23 persen, yang dinilai mencerminkan percepatan pembiayaan kepada sektor riil seiring membaiknya aktivitas ekonomi daerah.
OJK menyebut pertumbuhan kredit didorong oleh kredit produktif yang memiliki porsi 53,07 persen. Kredit produktif tumbuh 3,06 persen pada 2025 setelah pada 2024 sempat terkontraksi 0,08 persen. Di sisi lain, kredit konsumtif masih mencatatkan pertumbuhan 7,85 persen.
Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit terbesar mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran dengan porsi 22,19 persen. Kinerja intermediasi perbankan di Sulawesi Selatan juga tercatat dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) 117,95 persen, sementara rasio kredit bermasalah berada di level 3,65 persen.
Perbankan syariah turut mencatat kinerja positif. Pada Desember 2025, total aset perbankan syariah tumbuh 22,38 persen (yoy) menjadi Rp21,81 triliun. Penghimpunan DPK meningkat 20,64 persen menjadi Rp14,66 triliun, sedangkan penyaluran pembiayaan tumbuh 23,69 persen (yoy) menjadi Rp17,58 triliun. Tingkat intermediasi perbankan syariah berada pada level 119,94 persen dengan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) 1,72 persen.

