BERITA TERKINI
OJK Nilai Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Februari 2026 Tetap Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

OJK Nilai Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Februari 2026 Tetap Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global dan domestik yang masih menghadapi berbagai tantangan. Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK yang digelar pada 25 Februari 2026.

Dalam siaran pers yang dirilis pada 3 Maret 2026, OJK menyatakan penguatan ketahanan dan integritas sektor jasa keuangan menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional, terutama ketika perkembangan ekonomi global masih diliputi ketidakpastian.

OJK mencatat perekonomian dunia secara umum masih menunjukkan kinerja yang relatif baik. Indikasinya terlihat dari penguatan aktivitas manufaktur global serta tren pemulihan tingkat keyakinan konsumen di berbagai negara. Namun, OJK menilai terdapat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, terutama meningkatnya tensi geopolitik dan fragmentasi geoekonomi pada awal 2026.

Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain perkembangan situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah serta dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan global, yang pada akhirnya dapat memengaruhi stabilitas ekonomi di berbagai negara.

Dari sisi Amerika Serikat, OJK menyebut perekonomian pada kuartal IV 2025 tercatat tumbuh 1,4 persen secara kuartalan (qtq), lebih rendah dibanding ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan 2,5 persen. Pertumbuhan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk terjadinya government shutdown serta pelemahan konsumsi masyarakat, meski pasar tenaga kerja masih relatif solid.

OJK juga menyoroti tekanan inflasi di Amerika Serikat yang kembali meningkat. Seiring perkembangan itu, ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga pada pertengahan tahun mulai menurun. Kondisi ini memunculkan kecenderungan kebijakan suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama atau higher for longer.

Di kawasan Asia, OJK menilai perekonomian Tiongkok masih menghadapi tantangan signifikan, terutama terkait melemahnya permintaan domestik. Tekanan tersebut terjadi di tengah berlanjutnya krisis sektor properti yang masih memengaruhi stabilitas ekonomi negara tersebut.