Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewaspadai eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.
Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan bahwa Iran merupakan salah satu negara penghasil energi dengan cadangan minyak mentah terbesar ketiga di dunia. Selain itu, posisi Iran dinilai strategis karena berkaitan dengan jalur pelayaran Selat Hormuz.
Menurut Friderica—yang akrab disapa Kiki—Selat Hormuz menjadi rute penting bagi perdagangan energi global. Ia menyebut sekitar 20–30% perdagangan minyak mentah dan gas alam cair dunia melintasi selat tersebut setiap hari. Karena itu, jika Selat Hormuz ditutup dalam waktu berkepanjangan, dampaknya dapat meluas ke perekonomian global dan turut dirasakan Indonesia.
Dalam acara Economic Outlook 2026 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/2/2026), Kiki mengatakan otoritas bersama pemerintah akan mengantisipasi berbagai kemungkinan dampak rambatan konflik terhadap ekonomi nasional. Ia menilai situasi tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi serta pengetatan likuiditas di pasar keuangan global, yang pada gilirannya memperketat persaingan memperoleh dana global.
Kiki menambahkan, di tengah dinamika pasar negara berkembang, diperlukan penguatan fundamental ekonomi dan tata kelola yang kredibel agar tetap kompetitif serta mampu menarik aliran modal asing.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, juga menyoroti sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, mulai dari potensi gangguan rantai pasok global—terutama pasokan energi dan minyak bumi—hingga meningkatnya volatilitas pasar keuangan global.
Febrio menilai ketegangan perdagangan global berpotensi menekan kinerja ekspor nasional melalui pelemahan permintaan eksternal dan kenaikan biaya logistik. Ia menyatakan pemerintah terus memantau dinamika geopolitik global dan berbagai risiko yang dapat memengaruhi perekonomian nasional.

