Menjelang Lebaran, jutaan orang bersiap pulang kampung untuk bertemu keluarga. Bagi banyak pemudik, momen mudik menjadi pelepas rindu sekaligus penawar lelah setelah setahun bekerja, meski harus menghadapi kepadatan perjalanan dan antrean panjang.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyampaikan jumlah pemudik pada 2026 diprediksi mencapai sekitar 143,9 juta jiwa, atau lebih dari setengah total penduduk Indonesia. Angka itu disebut sedikit menurun sekitar 1,75% dibanding tahun sebelumnya. Adapun periode mudik Lebaran diperkirakan berlangsung sekitar 15 hari, dari 14 hingga 29 Maret 2026.
Selain menjadi tradisi tahunan, mudik juga memicu perputaran ekonomi yang besar. Dengan menggunakan asumsi inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2025 sekitar 4,76% dan merujuk data pengeluaran Lebaran 2025, rata-rata pengeluaran setiap keluarga diperkirakan berada pada rentang Rp 3,9 juta hingga Rp 4,2 juta. Dengan asumsi empat orang per keluarga, nilai ekonomi yang dihasilkan disebut dapat mencapai hingga Rp 151 triliun.
Namun, lonjakan aktivitas ekonomi tersebut berlangsung di tengah kondisi global yang dinilai tidak menentu. Disebutkan bahwa perang yang dipicu oleh agresi Amerika Serikat dan Israel ke Iran mendorong kenaikan harga minyak dunia hingga menembus di atas 100 dolar AS per barel, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam skenario harga minyak 70 dolar AS per barel, besaran subsidi dan kompensasi energi tercatat Rp 381,3 triliun dengan dukungan ketahanan energi Rp 402,4 triliun. Jika harga minyak bertahan di rentang 80–90 dolar AS per barel, pembengkakan anggaran diperkirakan dapat mencapai hingga Rp 75 triliun.
Periode Lebaran juga ditandai perpindahan puluhan juta orang dalam waktu singkat, sekitar sepekan sebelum dan sesudah hari raya. Kondisi itu meningkatkan output sektor transportasi—baik pesawat, kereta api, bus, kendaraan pribadi, maupun kapal laut—yang pada gilirannya mendorong konsumsi BBM secara signifikan. Meski cadangan BBM diperkirakan mencukupi, peningkatan konsumsi berpotensi memperbesar subsidi yang harus diberikan.
Dalam situasi defisit fiskal yang melebar, penutupan kebutuhan anggaran dilakukan melalui penambahan utang. Hal ini dapat memicu ekspektasi kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah. Disebutkan pula telah terjadi penurunan rating Indonesia oleh Fitch Ratings dan Moody’s, yang dapat berdampak pada berkurangnya porsi alokasi investasi portofolio asing seiring meningkatnya risiko.
Tekanan juga bisa merembet ke nilai tukar. Jika rupiah melemah, harga impor bahan baku akan naik sehingga barang yang bergantung pada bahan baku impor berpotensi mengalami kenaikan harga. Kenaikan harga BBM turut memicu kenaikan ongkos transportasi dan biaya logistik. Di sisi lain, kenaikan produk berbasis minyak, termasuk pupuk, disebut dapat terjadi. Ujungnya adalah kenaikan harga-harga, termasuk pangan.
Kenaikan harga pangan dinilai paling berdampak pada masyarakat berpenghasilan rendah karena porsi pengeluaran mereka lebih banyak terserap untuk pangan dan kebutuhan pokok nonpangan. Data Susenas BPS beberapa tahun terakhir menunjukkan sekitar setengah pengeluaran masyarakat Indonesia digunakan untuk konsumsi pangan. Artinya, inflasi pangan berpotensi langsung menekan kesejahteraan rumah tangga.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diimbau menerapkan konsumsi yang lebih bijak meski Lebaran kerap menjadi momen peningkatan belanja. Langkah yang disarankan dimulai dari melindungi arus kas rumah tangga dengan memprioritaskan kebutuhan pokok dan memastikan ketersediaan likuiditas sebagai bantalan bila harga pangan terdorong naik akibat konflik geopolitik.
Keinginan berbagi dan merayakan pencapaian tetap dapat dilakukan, namun dengan pertimbangan kemampuan keuangan. Masyarakat juga diingatkan untuk menahan pengeluaran kebutuhan tersier, termasuk belanja untuk kesenangan, prestise, status sosial, dan gaya hidup, karena beban finansialnya dapat mengganggu arus kas yang dibutuhkan dalam situasi ketidakpastian maupun keadaan darurat.
Lebaran tetap menjadi waktu yang membahagiakan bagi banyak orang. Namun, di tengah ketidakpastian ekonomi global, kewaspadaan dalam pengeluaran dinilai penting agar rumah tangga lebih siap menghadapi potensi kenaikan harga kebutuhan pokok dan memitigasi dampaknya terhadap ketahanan finansial.