Probabilitas resesi di Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir dilaporkan meningkat dan mendekati ambang psikologis 50 persen. Kenaikan ini dipandang sebagai sinyal dini yang kerap berkorelasi dengan perlambatan ekonomi global, meski sejumlah pelaku pasar menilai risikonya belum sepenuhnya masuk wilayah “50:50”.
Sejumlah proyeksi juga menunjukkan gambaran yang tidak seragam. Moody’s Analytics disebut lebih pesimistis dibanding konsensus Wall Street. Sementara itu, pemodelan Oxford Economics menekankan bahwa resesi global baru berpotensi terjadi bila harga minyak melonjak hingga sekitar 140 dolar AS per barel dan bertahan setidaknya dua bulan. Dengan demikian, risiko resesi dinilai sangat bergantung pada intensitas dan durasi guncangan, terutama dari sisi energi dan geopolitik.
Dalam konteks ini, kawasan Timur Tengah menjadi faktor penting. Gangguan distribusi energi global—khususnya melalui Selat Hormuz—dapat memicu lonjakan harga minyak. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut, sehingga eskalasi konflik yang menghambat distribusi berpotensi segera tercermin pada harga energi global. Jika terjadi, dampaknya dapat menjalar ke inflasi, biaya produksi, hingga daya beli masyarakat di berbagai negara.
Pengalaman sejak 1990-an menunjukkan pasar keuangan global relatif cepat pulih setelah konflik di Timur Tengah mereda. Namun situasi saat ini dinilai berbeda karena inflasi global masih tinggi dan kebijakan suku bunga ketat berisiko membuat pemulihan berlangsung lebih lambat. Kombinasi tekanan energi, kebijakan moneter ketat, dan ketidakpastian geopolitik membentuk risiko yang lebih kompleks.
Di tengah kondisi tersebut, peran Bank Indonesia dinilai strategis dalam menjaga stabilitas. Namun stabilitas jangka pendek saja dipandang tidak cukup karena Indonesia memerlukan strategi yang lebih komprehensif untuk menghadapi ketidakpastian global.
Sejarah menunjukkan bagaimana guncangan global dapat cepat merambat. Saat krisis keuangan global 2008, kontraksi ekonomi Amerika Serikat menekan perdagangan internasional dan mengguncang pasar keuangan. Indonesia yang relatif lebih tahan tetap mengalami perlambatan: ekspor anjlok, rupiah tertekan, dan pertumbuhan ekonomi turun dari 6,0 persen pada 2008 menjadi sekitar 4,6 persen pada 2009. Pada 2020, pandemi Covid-19 juga membuat ekonomi Indonesia sempat terkontraksi hingga -2,1 persen.
Dengan risiko resesi global kembali meningkat, Indonesia disebut tidak berada dalam ruang hampa. Sebagai ekonomi terbuka, Indonesia terhubung dengan dinamika global melalui tiga saluran utama: perdagangan, keuangan, dan ekspektasi pasar.
Dari sisi perdagangan, sekitar 20–25 persen produk domestik bruto (PDB) Indonesia terkait langsung dengan ekspor dan impor. Sejumlah komoditas seperti batu bara, minyak sawit mentah (CPO), dan nikel menjadi penopang ekspor. Ketika ekonomi global melambat, permintaan komoditas cenderung turun dan biasanya diikuti penurunan harga internasional. Contohnya, harga batu bara yang sempat melampaui 400 dolar AS per ton pada 2022 turun seiring melemahnya permintaan global. Penurunan harga komoditas dapat menggerus penerimaan ekspor dan berdampak pada pendapatan negara, mengingat kontribusi sektor ini terhadap pajak dan royalti.
Dari sisi keuangan, meningkatnya probabilitas resesi sering berkaitan dengan kebijakan moneter ketat di negara maju, terutama Amerika Serikat. Kenaikan suku bunga global mendorong investor memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, memicu capital outflow dari negara berkembang. Dampaknya bagi Indonesia antara lain pelemahan rupiah, fluktuasi pasar saham, dan kenaikan biaya pinjaman. Dalam situasi ini, Bank Indonesia menghadapi dilema antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong pertumbuhan, karena kenaikan suku bunga domestik dapat menahan arus keluar modal tetapi berisiko menekan konsumsi dan investasi.
Saluran ketiga adalah ekspektasi pasar. Ketika pelaku pasar memandang risiko resesi meningkat, sikap kehati-hatian dapat menguat: perusahaan menunda ekspansi, rumah tangga mengurangi konsumsi, dan investor menahan penanaman modal. Efek psikologis ini berpotensi mempercepat perlambatan bahkan sebelum dampak riil sepenuhnya terasa.
Meski demikian, Indonesia dinilai memiliki keunggulan struktural yang dapat menjadi bantalan. Konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 52–55 persen PDB, sehingga selama daya beli terjaga, ekonomi nasional memiliki penopang kuat. Dari sisi fiskal, reformasi beberapa tahun terakhir disebut memperkuat ketahanan APBN. Rasio utang pemerintah terhadap PDB berada di kisaran 38–40 persen, relatif rendah dibanding banyak negara lain. Defisit fiskal juga kembali dijaga di bawah 3 persen setelah sempat melebar saat pandemi, sehingga ruang fiskal tersedia bila pemerintah perlu menyiapkan stimulus untuk meredam perlambatan global.
Namun ketahanan tidak berarti kebal. Tantangan ke depan adalah mengelola risiko tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan. Dalam menghadapi potensi resesi global, Indonesia didorong bergerak dari respons reaktif menuju strategi yang lebih antisipatif dan terstruktur melalui sejumlah langkah.
Pertama, menjaga defisit tetap terkendali tetapi fleksibel saat krisis. Reformasi subsidi energi dinilai krusial, terutama dengan perbaikan penargetan agar lebih tepat sasaran. Dalam kondisi harga minyak tinggi, mekanisme penyesuaian otomatis (automatic adjustment) disebut dapat mengurangi tekanan mendadak pada APBN.
Kedua, menjaga stabilitas nilai tukar dan arus modal melalui koordinasi erat pemerintah dan Bank Indonesia untuk mengantisipasi capital outflow. Instrumen yang disebut mencakup intervensi valas, kebijakan suku bunga yang terukur, serta pendalaman pasar keuangan domestik guna menjaga stabilitas rupiah.
Ketiga, mengurangi ketergantungan pada komoditas. Lonjakan harga komoditas memang menguntungkan jangka pendek, tetapi menciptakan volatilitas tinggi. Karena itu, hilirisasi industri didorong dipercepat dan diperluas, tidak hanya pada mineral, tetapi juga pertanian dan manufaktur. Diversifikasi ekspor dipandang penting untuk mengurangi kerentanan terhadap siklus global.
Keempat, melindungi daya beli dan konsumsi domestik. Karena konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50 persen PDB, menjaga daya beli menjadi prioritas. Langkah yang ditekankan meliputi stabilitas harga pangan, perluasan bantuan sosial yang tepat sasaran, serta dorongan penciptaan lapangan kerja.
Kelima, mempercepat transformasi ekonomi dan produktivitas. Dalam jangka panjang, ketahanan ekonomi dinilai ditentukan oleh produktivitas, sehingga investasi pada pendidikan, teknologi, dan infrastruktur digital perlu dipercepat untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan dan tidak bergantung pada siklus komoditas.
Peningkatan probabilitas resesi global dipandang sebagai peringatan dini, bukan kepastian. Skenario Oxford Economics menilai dunia masih memiliki peluang menghindari resesi selama guncangan energi tidak mencapai titik ekstrem, namun ketidakpastian geopolitik membuat risikonya tetap nyata. Indonesia dinilai berada pada posisi relatif kuat, tetapi tetap menghadapi potensi dampak melalui perdagangan, keuangan, dan ekspektasi pasar. Dalam ekonomi global yang kian terhubung, pertanyaan utamanya bukan lagi apakah guncangan akan terjadi, melainkan seberapa siap suatu negara menghadapinya.