Mantan penasihat keuangan Manchester City, Stefan Borson, menilai keputusan Liga Premier yang menjatuhkan sanksi finansial kepada Chelsea tanpa hukuman olahraga dapat menjadi preseden yang menguntungkan bagi Manchester City dalam perkara 115 dugaan pelanggaran aturan Financial Fair Play (FFP).
Liga Premier sebelumnya menuntaskan penyelidikan terkait penyimpangan keuangan historis Chelsea pada era kepemilikan Roman Abramovich. Dalam penyelesaian tersebut, Chelsea dijatuhi denda sebesar £10,75 juta serta larangan transfer yang ditangguhkan. Namun, klub London itu tidak dikenai sanksi olahraga seperti pengurangan poin.
Borson menyoroti bahwa putusan terkait Chelsea tidak memuat istilah “keuntungan kompetitif”. Menurutnya, hal itu penting karena dapat memengaruhi cara liga menilai dampak pelanggaran terhadap kompetisi.
“Kesepakatan yang sangat lunak dengan Liga Premier. Ada pertanyaan serius mengenai pendekatan Liga Premier. Istilah 'keuntungan kompetitif' sama sekali tidak muncul dalam perjanjian sanksi meskipun terjadi perekrutan sejumlah pemain dalam situasi kompetitif. Ini merupakan preseden yang sangat berguna bagi City dalam skenario terburuk mereka,” kata Borson, seperti dilansir Daily Mail.
Ia juga menekankan alasan yang digunakan dalam kasus Chelsea, yaitu bahwa pengurangan poin dianggap “tidak tepat” karena adanya faktor-faktor yang meringankan. Borson menilai pertimbangan tersebut berbeda dari pendekatan yang lazim, di mana faktor yang meringankan biasanya hanya mengurangi besaran hukuman yang dijatuhkan, misalnya mengurangi jumlah poin yang dipotong.
Adapun pelanggaran yang dikaitkan dengan Chelsea berfokus pada periode 2011 hingga 2018. Klub mengakui adanya pembayaran sebesar £47.524.925,74 yang dilakukan oleh pihak ketiga kepada berbagai individu. Temuan ini diungkap oleh kelompok pemilik Chelsea saat ini yang dipimpin Todd Boehly, setelah ditemukan dalam proses uji tuntas ketika akuisisi klub pada 2022.
Sementara itu, Manchester City masih menunggu keputusan atas 115 tuduhan yang diarahkan kepada klub. Tuduhan tersebut mencakup dugaan penyamaran pembayaran dari pemilik sebagai pendapatan sponsor serta pemberian gaji yang tidak dilaporkan kepada staf dan pemain tim utama selama bertahun-tahun. Manchester City tetap menyatakan tidak bersalah, sementara putusan akhir masih dinantikan.