BERITA TERKINI
Mandiri Sekuritas Optimistis IHSG Pulih pada 2026, Pipeline IPO Diklaim Lebih Banyak dari Tahun Lalu

Mandiri Sekuritas Optimistis IHSG Pulih pada 2026, Pipeline IPO Diklaim Lebih Banyak dari Tahun Lalu

PT Mandiri Sekuritas Indonesia (Mandiri Sekuritas/Mansek) menyatakan optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang kembali membaik pada 2026 dan bahkan dapat mencatat pertumbuhan double digit. Sejalan dengan itu, perusahaan juga menargetkan membawa lebih banyak calon emiten untuk melantai di bursa dibandingkan tahun lalu.

Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana mengatakan pipeline calon emiten yang akan melakukan initial public offering (IPO) bersama Mansek tahun ini lebih dari enam perusahaan, meski ia tidak merinci nama maupun sektornya.

Oki menambahkan, gejolak yang muncul setelah adanya peringatan Morgan Stanley Capital Index (MSCI) terkait transparansi pasar modal Indonesia belum berdampak pada rencana IPO klien Mansek. Menurutnya, tidak ada calon emiten yang membatalkan proses yang tengah berjalan.

Ia menilai ramai atau tidaknya IPO tetap sangat bergantung pada permintaan pasar dan minat investor. Oki juga menyinggung perubahan aturan batas minimum free float emiten menjadi 15% dari sebelumnya 7%. Ia menekankan persiapan IPO membutuhkan waktu sekitar 4–6 bulan, sehingga penentuan waktu pelaksanaan menjadi faktor penting.

Di sisi lain, Oki berpandangan semakin banyak saham yang beredar akan memperluas pilihan bagi investor. Ia juga menyebut fundamental serta manajemen pasar modal Indonesia masih dinilai baik, terlebih dengan rencana reformasi pasca-peringatan MSCI. Menurutnya, investor asing turut memantau perkembangan reformasi tersebut.

Oki meyakini dengan strategi yang dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), penguatan IHSG berpeluang berlanjut. Ia menilai perbaikan transparansi dan tata kelola, ditambah bertambahnya pilihan saham yang ditawarkan—selama didukung fundamental perusahaan yang solid—dapat menarik investor domestik maupun asing.

Selain itu, ia menyoroti potensi peningkatan likuiditas pasar melalui bertambahnya porsi investasi institusi domestik di saham, termasuk dari sektor asuransi, manajer investasi, hingga BPJS. Menurut Oki, reformasi yang berjalan diarahkan agar pasar menjadi lebih likuid, dengan free float dan likuiditas yang lebih nyata.

Untuk tahun ini, Mansek memproyeksikan IHSG dapat mencapai 9.350 pada skenario bullish dan 7.670 pada skenario bearish. Sejumlah sektor yang disebut memiliki prospek pertumbuhan cukup baik antara lain komoditas, telekomunikasi, internet/digital, konsumer, ritel, transportasi, dan bahan bangunan.

Oki menilai penguatan IHSG dapat didorong oleh semakin banyak IPO yang berkualitas dan berukuran besar, disertai peningkatan investasi institusi domestik serta kembalinya kepercayaan investor asing. Ia menekankan pendalaman pasar (market deepening) akan membaik bila likuiditas meningkat dan partisipasi investor institusional menguat.

Terkait kajian MSCI terhadap reformasi pasar modal Indonesia hingga Mei 2026, Oki menyatakan tetap optimistis. Ia berpendapat banyak emiten di bursa memiliki fundamental yang baik dan hanya menunggu momentum agar harga saham membaik.

Mandiri Sekuritas memperkirakan 2026 menjadi periode pemulihan pasar saham Indonesia, dengan earning growth recovery mencapai double digit di tengah kebijakan fiskal ekspansif dan kenaikan harga komoditas. EPS growth dari 80 emiten yang dicakup Mansek diprediksi mencapai 15% pada 2026, membaik dibandingkan -12% pada 2025.

Dari sisi pasar obligasi, Mansek memperkirakan imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun bergerak dalam kisaran 5,80–6,20% pada 2026, dengan asumsi suku bunga BI 4,25% dan imbal hasil UST 10 tahun sekitar 3,8%. Proyeksi itu juga mengasumsikan tidak terjadi penurunan peringkat (downgrade) sovereign rating dan tetap berada pada level Baa2 atau BBB.

Meski terdapat revisi negative outlook oleh Moody’s, Mansek menilai pasar obligasi Indonesia tidak akan mengalami downgrade. Alasannya, kemampuan membayar utang Indonesia dinilai masih solid, tercermin dari defisit fiskal yang kecil serta rasio utang terhadap PDB yang rendah.