Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu pagi bergerak melemah seiring investor masuk ke mode risk-off atau menghindari aset berisiko, di tengah antisipasi kenaikan harga minyak mentah global.
IHSG dibuka turun 43,39 poin atau 0,55 persen ke posisi 7.896,38. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan melemah 3,29 poin atau 0,41 persen ke posisi 802,31.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai secara teknikal IHSG tinggal selangkah lagi menuju area penopang (support) 7.900–7.840. Ia mengingatkan potensi penurunan lebih dalam jika level tersebut ditembus, dengan volatilitas diperkirakan masih tinggi dalam dua pekan ke depan.
“Secara teknikal, IHSG selangkah lagi mencapai area support 7.900–7.840, brace your portofolio untuk kemungkinan jebol lebih dalam lagi (bearish flag). Volatilitas masih akan tinggi dalam dua pekan ini, sikap wait and see masih lebih banyak disarankan,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Dari sisi global, sentimen pasar didominasi mode risk-off setelah konflik di Timur Tengah memasuki hari keempat, ditandai eskalasi serangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Serangan Iran terhadap fasilitas energi dan kapal tanker di kawasan Teluk, serta ancaman penutupan Selat Hormuz—jalur yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan energi dunia—memicu kekhawatiran gangguan pasokan global.
Harga minyak Brent dilaporkan naik hingga sekitar 81–82 dolar AS per barel, sementara US WTI menguat ke kisaran 74–75 dolar AS per barel, setelah sebelumnya sempat melonjak hampir 10 persen secara intraday dan mencapai level tertinggi sejak 2024–2025. Liza menilai lonjakan harga minyak memperkuat kekhawatiran inflasi global karena energi merupakan komponen penting dalam biaya produksi dan transportasi.
Selain itu, investor mulai menilai konflik berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan awal, sehingga meningkatkan risiko inflasi energi sekaligus menekan pertumbuhan global. Menurut Liza, lonjakan harga minyak dipandang sebagai shock pasokan energi yang dapat mendorong inflasi global dan membuat bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Sejalan dengan itu, pelaku pasar disebut tidak lagi sepenuhnya memperkirakan pemangkasan suku bunga bank sentral AS (The Fed) hingga September 2026. Fed Fund Futures menunjukkan probabilitas sekitar 56 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Juni 2026.
Di pasar mata uang, dolar AS menguat tajam sebagai aset safe haven dan mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terhadap euro, poundsterling, dan yen Jepang. Sementara itu, harga emas global justru turun seiring penguatan dolar AS dan aksi ambil untung investor.
Ketegangan geopolitik juga mulai memicu gangguan perdagangan global, terutama pada sektor energi dan logistik. Ancaman terhadap Selat Hormuz berpotensi mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak global dan volume besar LNG dunia. Gangguan pelayaran turut mendorong lonjakan tarif pengiriman serta harga energi.
Konflik juga menyebabkan penutupan sejumlah hub penerbangan utama di Timur Tengah seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi. Disebutkan lebih dari 21.300 penerbangan dibatalkan dan puluhan ribu penumpang terlantar.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengumumkan U.S. Development Finance Corporation akan menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan bagi perdagangan maritim yang melintasi Teluk, khususnya pengiriman energi. Trump juga menyatakan Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz jika diperlukan untuk memastikan kelancaran pasokan energi global.
Dari dalam negeri, BEI bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menerbitkan informasi mengenai kepemilikan saham perusahaan tercatat di atas 1 persen. Informasi tersebut akan dipublikasikan setiap bulan melalui situs BEI pada tautan www.idx.co.id/id/berita/pengumuman/ atau melalui menu www.idx.co.id > Berita > Pengumuman. BEI berharap ketersediaan data ini dapat menjadi referensi yang lebih akurat bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi sekaligus memperkuat kepercayaan, integritas, dan kredibilitas pasar modal Indonesia.
Di pasar global, bursa saham Eropa pada perdagangan Selasa (3/3) kompak melemah. Euro Stoxx 50 turun 3,64 persen, FTSE 100 Inggris melemah 2,75 persen, DAX Jerman turun 3,44 persen, dan CAC Prancis melemah 3,46 persen. Wall Street juga bergerak turun, dengan Dow Jones melemah 0,83 persen ke 48.501,27, S&P 500 turun 0,95 persen ke 6.816,63, dan Nasdaq Composite turun 1,09 persen ke 24.720,08.
Sementara itu, bursa regional Asia pada Rabu pagi bergerak bervariasi. Indeks Nikkei melemah 2,94 persen ke 54.625,30, Shanghai turun 0,73 persen ke 4.094,17, Hang Seng melemah 1,68 persen ke 25.334,74, dan Kuala Lumpur turun 0,25 persen ke 1.707,66. Adapun Strait Times menguat 1,68 persen ke 4.835,25.

