BERITA TERKINI
IHSG anjlok 4,57% usai sentimen geopolitik dan outlook kredit RI direvisi Fitch

IHSG anjlok 4,57% usai sentimen geopolitik dan outlook kredit RI direvisi Fitch

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan Rabu sore jatuh 362,70 poin atau 4,57 persen ke level 7.577,06. Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 yang turun 33,14 poin atau 4,11 persen ke posisi 772,44.

Tekanan pasar dipicu kombinasi sentimen global dan domestik, yakni eskalasi geopolitik di Timur Tengah serta revisi prospek (outlook) peringkat utang Indonesia oleh Fitch Ratings. Head of Research PT Korea Investment And Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan kombinasi kedua faktor tersebut mendorong sentimen negatif di pasar.

Fitch Ratings merevisi outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB atau masih berada pada kategori layak investasi (investment grade). Fitch menilai sentralisasi pengambilan kebijakan yang semakin kuat berpotensi memengaruhi prospek fiskal jangka menengah, sentimen investor, serta ketahanan eksternal Indonesia.

Wafi menilai situasi ini turut mendorong arus keluar modal asing (capital outflow). Menurutnya, pendorong utama adalah sentimen risk-off global serta menurunnya kepercayaan terhadap stabilitas fiskal domestik. Ia juga menyebut pemangkasan outlook tersebut memperparah sentimen negatif setelah adanya peringatan dari S&P Global Ratings kepada Indonesia.

Dari sisi global, bursa saham kawasan Asia juga kompak melemah di tengah kekhawatiran gangguan rantai pasok global, terutama terkait minyak, menyusul isu penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Lonjakan harga minyak dinilai berpotensi mendorong inflasi global dan dapat membuat bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Dalam kondisi tersebut, investor cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas dan dolar AS, sehingga meninggalkan pasar saham, termasuk di negara berkembang.

Pergerakan IHSG sejak pembukaan berada di zona negatif dan berlanjut hingga akhir sesi pertama. Pada sesi kedua, tekanan jual masih berlanjut hingga penutupan perdagangan.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor terkoreksi. Sektor barang baku mencatat penurunan terdalam sebesar 7,39 persen, disusul sektor transportasi dan logistik yang turun 7,08 persen, serta sektor barang konsumen non primer yang melemah 6,35 persen.

Di sisi saham, penguatan terbesar tercatat pada IFSH, SOTS, ITMA, GRPM, dan INPS. Sementara pelemahan terbesar terjadi pada ICON, MPOW, BUVA, MDIA, dan LEAD.

Aktivitas perdagangan mencatat frekuensi 3.302.236 transaksi dengan volume 53,61 miliar saham dan nilai transaksi Rp29,72 triliun. Sebanyak 54 saham menguat, 734 saham melemah, dan 33 saham tidak bergerak.

Di kawasan Asia, sejumlah indeks utama juga ditutup melemah. Indeks Nikkei turun 2.033,60 poin atau 3,61 persen ke 58.057,19, indeks Shanghai turun 40,21 poin atau 0,98 persen ke 4.082,46, indeks Hang Seng turun 518,59 poin atau 2,01 persen ke 25.249,48, indeks Kuala Lumpur turun 13,73 poin atau 0,80 persen ke 1.698,22, dan indeks Strait Times turun 103,89 poin atau 2,11 persen ke 4.812,75.