Harga minyak mentah Brent melonjak sejak awal 2026, naik sekitar 43%. Kenaikan berlanjut sekitar 22% dalam tiga hari pertama konflik yang sedang berlangsung, hingga menembus level di atas US$85 per barel. Pergerakan ini memunculkan pertanyaan di pasar apakah dunia berisiko menghadapi situasi seperti 2022, ketika konflik di Ukraina mendorong harga energi melesat.
Meski demikian, sejumlah ahli mengingatkan agar kondisi saat ini tidak disamakan begitu saja dengan 2022, ketika Brent sempat menyentuh sekitar US$120 per barel. Dalam skenario dasar saat ini, risiko yang menonjol bukan keruntuhan sistemik, melainkan guncangan pasokan. Besar-kecilnya dampak sangat bergantung pada durasi dan intensitas gangguan, serta kemungkinan efeknya merembet ke sektor ekonomi lain. Walau sebagian dampak bisa bersifat sementara, guncangan ini tetap berpotensi mengubah prospek ekonomi dalam jangka pendek hingga menengah.
Sumber utama gangguan dikaitkan dengan posisi Iran terhadap Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima minyak dan gas dunia setiap hari. Teheran memperingatkan dapat menyerang kapal apa pun yang melintasi wilayah tersebut. Dengan demikian, persoalan utama dinilai bukan ketersediaan minyak secara global, melainkan kemampuan mengangkut minyak keluar dari kawasan Teluk, yang pada gilirannya mengganggu rantai pasokan internasional.
Para ahli menilai perhatian pasar tidak hanya tertuju pada seberapa besar kenaikan harga bahan bakar dalam waktu dekat, melainkan pada apakah kenaikan itu akan menular ke indeks harga konsumen dan indeks harga produsen, sehingga memengaruhi ekspektasi inflasi secara lebih luas. Ketika harga minyak dan gas naik, biaya bensin, solar, listrik, dan gas rumah tangga cenderung ikut meningkat. Komponen-komponen ini juga menjadi input penting bagi banyak sektor, mulai dari industri hingga restoran, hotel, dan ritel.
Tekanan biaya tidak berhenti pada energi. Biaya asuransi maritim dilaporkan melonjak tajam—berpotensi hingga 50% menurut laporan S&P—yang meningkatkan ongkos transportasi. Perubahan rute pengiriman, pembatalan kapal, dan waktu pengiriman yang lebih panjang turut menciptakan hambatan logistik. Akibatnya, bukan hanya energi, tetapi juga bahan baku, komponen industri, serta makanan impor berisiko menjadi lebih mahal.
Perkembangan berikutnya sangat ditentukan oleh lamanya krisis. Jika guncangan berlangsung singkat, sebagian pelaku usaha masih dapat menyerap biaya melalui penurunan margin keuntungan. Namun, bila situasi berlarut selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, penyesuaian harga ke atas menjadi lebih sulit dihindari dan dapat memengaruhi ekspektasi inflasi. Saat rumah tangga dan bisnis meyakini harga tidak hanya naik, tetapi juga bertahan tinggi, perilaku ekonomi dapat berubah dan meningkatkan risiko spiral inflasi upah-harga.
Meski begitu, konteks saat ini disebut berbeda dari 2022. Inflasi di Eropa berada di sekitar 1,9% dan terus menurun sejak September 2025. Persediaan energi global lebih tinggi, pasar gas alam cair dinilai lebih fleksibel, dan bank sentral mempertahankan suku bunga riil positif, yang memperkuat kapasitas respons kebijakan terhadap guncangan energi.
Risiko terbesar muncul jika guncangan harga berubah menjadi guncangan pasokan yang nyata. Jika Selat Hormuz diblokade untuk waktu lama atau infrastruktur ekspor energi di kawasan rusak, dunia dapat menghadapi guncangan pasokan kuantitatif yang berat, dengan dampak lebih dalam terhadap inflasi dan pertumbuhan.
Pembuat kebijakan di Eropa mulai merespons risiko tersebut. Kepala ekonom Bank Sentral Eropa (ECB) Philip Lane memperingatkan bahwa guncangan energi yang berkepanjangan dapat memicu efek sekunder dan memperlambat kemajuan pengendalian inflasi. Ia menilai, jika gangguan berlangsung lama, kemungkinan Eropa perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga lagi—meski tidak diinginkan—yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.
Kekhawatiran itu muncul di tengah tanda-tanda pelemahan ekonomi Eropa. Pertumbuhan PDB kuartal IV 2025 tercatat 1,5% secara tahunan, menjadi kuartal kedua berturut-turut dengan laju pertumbuhan yang menurun. Di Amerika Serikat, Federal Reserve juga menimbang apakah guncangan energi saat ini hanya sementara atau berisiko mendorong inflasi bertahan lebih tinggi, mengingat inflasi Januari berada di 2,4%, masih di atas target 2%.
Secara umum, guncangan energi dapat menekan pertumbuhan melalui tiga jalur utama. Pertama, kenaikan harga bahan bakar dan listrik bertindak seperti “pajak terselubung” yang dampaknya lebih berat bagi rumah tangga berpendapatan rendah. Kedua, bisnis dengan margin tipis dapat memangkas investasi atau menunda perekrutan karena biaya meningkat. Ketiga, risiko geopolitik dapat mendorong imbal hasil obligasi, menaikkan biaya kredit, memperbesar volatilitas pasar keuangan, serta melemahkan aliran modal ke negara berkembang.
Dalam situasi ini, Israel disebut berada pada posisi relatif lebih menguntungkan. Keputusan Gubernur Bank Sentral Israel menunda pemotongan suku bunga—meski ada tekanan dari opini publik dan Kementerian Keuangan—dipandang sebagai langkah yang hati-hati, mengingat meningkatnya ketidakstabilan geopolitik dan premi risiko. Namun, Israel tetap terdampak oleh kenaikan biaya impor bahan bakar dan pengiriman, sehingga kehati-hatian kebijakan dinilai tetap diperlukan.

