BERITA TERKINI
Lebaran 2026 Diproyeksi Topang Ekonomi Kuartal I di Tengah Tekanan Global dan Inflasi

Lebaran 2026 Diproyeksi Topang Ekonomi Kuartal I di Tengah Tekanan Global dan Inflasi

JAKARTA — Momentum Ramadhan dan Idul Fitri 2026 diperkirakan kembali menjadi penopang utama aktivitas ekonomi nasional pada kuartal I 2026. Peningkatan konsumsi rumah tangga, mobilitas masyarakat melalui mudik, serta distribusi pendapatan musiman seperti tunjangan hari raya (THR), bonus, dan zakat dinilai mendorong perputaran ekonomi pada awal tahun.

Namun, dorongan konsumsi tersebut terjadi di tengah tekanan eksternal dan domestik. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyoroti eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah sebagai faktor yang turut memengaruhi prospek ekonomi Indonesia menjelang Lebaran.

Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran serta gangguan pada jalur strategis Selat Hormuz memicu ketidakpastian pasokan energi global. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent, yang pada gilirannya meningkatkan tekanan terhadap stabilitas ekonomi domestik di tengah lonjakan konsumsi musiman.

Ekonom INDEF Abdul Manap Pulungan menilai Ramadhan dan Idul Fitri merupakan periode penting bagi perekonomian karena adanya peningkatan konsumsi masyarakat yang didorong penyaluran THR. Aktivitas belanja meningkat pada berbagai sektor, mulai dari pangan, sandang, transportasi, hingga pariwisata.

“Ramadhan dan Lebaran menjadi shock musiman pada sisi permintaan yang mendorong konsumsi rumah tangga,” ujar Abdul Manap dalam paparannya, dikutip Senin (23/3/2026).

Abdul Manap juga menekankan dampak ekonomi dari fenomena mudik. Selain meningkatkan mobilitas masyarakat, mudik mendorong redistribusi aktivitas ekonomi dari kota besar ke daerah tujuan. Perputaran uang di daerah meningkat seiring naiknya konsumsi, yang berdampak pada penguatan sektor informal dan pelaku UMKM.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peningkatan konsumsi tidak sepenuhnya mencerminkan penguatan daya beli. Menurut catatannya, pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) memang meningkat selama periode Lebaran, tetapi lajunya cenderung melambat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan pada daya beli, terutama pada kelompok masyarakat menengah ke bawah.

Di saat yang sama, biaya tambahan selama periode mudik—seperti kemacetan, kenaikan harga bahan bakar, serta biaya transportasi—turut memengaruhi pola konsumsi. Dalam konteks ini, Lebaran tetap menjadi penggerak ekonomi, tetapi efeknya berpotensi tereduksi oleh meningkatnya tekanan biaya.

Dari sisi harga, dinamika inflasi menjelang Ramadhan juga menjadi perhatian. Peneliti INDEF Afaqa Hudaya mencatat inflasi Februari 2026 naik menjadi 4,76 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut terutama didorong komponen administered prices atau harga yang diatur pemerintah yang mencapai 12,66 persen, serta kenaikan harga yang berdampak langsung pada inflasi bulanan.