Laporan terbaru DBS menilai eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memperbesar risiko perlambatan ekonomi global. Konflik yang disebut dimulai secara unilateral oleh AS bersama Israel itu dinilai meningkatkan ketidakpastian geopolitik sekaligus menekan stabilitas makroekonomi dunia.
Dalam laporan bertajuk Market Pulse yang dikutip Senin (2/3/2026), DBS menyoroti dampak lanjutan dari lonjakan harga energi yang dapat terjadi akibat potensi gangguan pasokan. Tekanan tersebut dinilai tidak hanya memengaruhi pasar komoditas, tetapi juga memperburuk ekspektasi inflasi secara global.
“Lonjakan harga minyak akibat guncangan pasokan akan meningkatkan ekspektasi inflasi dan membatasi ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga,” tulis DBS dalam laporannya.
DBS menilai kenaikan ekspektasi inflasi akan mempersempit fleksibilitas kebijakan moneter, terutama di Amerika Serikat. Jika tekanan harga berlanjut, bank sentral disebut akan menghadapi dilema antara menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Selain membatasi ruang pelonggaran suku bunga, lonjakan inflasi juga dinilai berpotensi menekan aktivitas ekonomi secara langsung. Biaya energi yang lebih tinggi disebut dapat menggerus daya beli konsumen serta meningkatkan beban biaya produksi bagi pelaku usaha.
“Kenaikan inflasi akan membebani aktivitas ekonomi dan meningkatkan kemungkinan terjadinya resesi global,” lanjut DBS.
DBS menyimpulkan, kombinasi ketidakpastian geopolitik, tekanan harga energi, serta respons kebijakan moneter yang terbatas dapat menciptakan risiko sistemik bagi pertumbuhan global. Selama konflik belum menunjukkan tanda mereda, pasar dinilai akan tetap sensitif terhadap perkembangan di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Iran menegaskan tidak akan bernegosiasi dengan AS. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, pada Senin (2/3/2026) membantah klaim bahwa negaranya berupaya memulai kembali perundingan dengan Washington.
Melalui platform media sosial X, Larijani menanggapi laporan yang menyebut Iran melakukan inisiatif baru untuk bernegosiasi dengan AS. Merujuk pada laporan yang mengutip pernyataan bahwa Larijani berusaha melanjutkan perundingan melalui Oman, ia menegaskan, “Kami tidak akan bernegosiasi dengan AS.”
Dalam unggahan terpisah, Larijani juga menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Iran. Ia mengkritik Trump karena dinilai telah membawa kawasan ke dalam kekacauan melalui apa yang disebutnya sebagai “ilusi kosong”.
Larijani mengatakan, “Dia sekarang khawatir akan kerugian lebih lanjut dari tentara AS. Dengan delusinya sendiri, ia telah mengubah slogan 'America First' menjadi 'Israel First' dan mengorbankan pasukan Amerika demi hasrat kekuasaan Israel.”

