PT Royalindo Investa Wijaya Tbk (INDO) membukukan pendapatan sebesar Rp28,85 miliar pada tahun yang berakhir 31 Desember 2025. Perolehan tersebut naik 7,14% dibandingkan pendapatan Rp26,93 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Manajemen INDO dalam laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Minggu (15/3/2026) menyatakan, kenaikan pendapatan didorong kontribusi dari segmen sewa indekos, sewa tanah dan bangunan, serta sewa kantin.
Secara rinci, pendapatan segmen sewa indekos meningkat tipis menjadi Rp20,29 miliar dari Rp20,27 miliar pada 2024. Sementara pendapatan sewa tanah dan bangunan naik menjadi Rp8,43 miliar dari Rp6,55 miliar. Adapun pendapatan sewa kantin tercatat Rp118,3 juta, meningkat dari Rp96,2 juta pada tahun sebelumnya.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, beban pokok pendapatan pada 2025 tercatat Rp10,28 miliar, naik 3,46% dari Rp9,93 miliar pada 2024. Dengan demikian, laba kotor perseroan meningkat 9,29% menjadi Rp18,56 miliar dari Rp16,99 miliar.
Di sisi beban operasional, beban umum dan administrasi naik 61,26% menjadi Rp13,23 miliar pada 2025 dari Rp8,20 miliar pada 2024. Namun, penghasilan usaha lain-lain bersih meningkat 90,22% menjadi Rp25,51 miliar dari Rp13,41 miliar.
Kombinasi faktor tersebut mendorong laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (laba bersih) menjadi Rp29,16 miliar pada 2025. Angka ini melonjak 35,77% dibandingkan laba bersih Rp21,48 miliar pada 2024.
Kenaikan laba juga mengerek laba per saham dasar menjadi Rp6,51 per saham pada 2025, dari Rp4,90 per saham pada tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset INDO meningkat 9,68% menjadi Rp1,14 triliun pada 2025, dibandingkan Rp1,04 triliun pada 2024. Total ekuitas juga naik 9,38% menjadi Rp1,13 triliun dari Rp1,03 triliun.
Sementara itu, total liabilitas perseroan tercatat Rp7,31 miliar pada 2025, naik 90,95% dari Rp3,82 miliar pada 2024. Direktur Utama PT Royalindo Investa Wijaya Tbk, Leslie Soemedi, menjelaskan peningkatan tersebut dipicu kenaikan kewajiban jangka pendek, terutama utang usaha.
“Terdapat kenaikan sebesar 90,95% pada liabilitas di laporan tahun 2025, hal ini karena meningkatnya liabilitas jangka pendek yaitu utang usaha,” ujar Leslie dalam keterbukaan informasi BEI.
Secara rinci, utang usaha pihak ketiga tercatat Rp4,25 juta, turun dari Rp32,42 juta. Namun, utang lain-lain pihak ketiga meningkat menjadi Rp3,28 miliar dari Rp26,44 juta.
INDO bergerak di bidang usaha real estat, baik secara langsung maupun melalui anak usaha. Sejak 2018, perseroan juga mengembangkan bisnis penyewaan kamar indekos di wilayah Jakarta.
Perseroan memiliki sembilan anak usaha yang bergerak di sejumlah bidang, antara lain real estat, perdagangan besar dan konstruksi, perdagangan eceran, penyedia akomodasi serta makanan dan minuman, hingga perkebunan tebu dan industri gula. Di sektor properti, anak usaha antara lain PT Semangat Bangun Nusantara, PT Mulia Arta Nusantara, PT Semangat Pangeran Abadi, dan PT Semangat Pangeran Jayakarta, serta PT Cahaya Semesta Investa dan PT Semangat Pangeran Indonusa. Adapun PT Cahaya Royal Indonusa berfokus pada penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman, PT Cahaya Nusa Sentosa bergerak di bidang perdagangan besar, konstruksi, penyediaan akomodasi, makanan dan minuman, serta real estat, sedangkan PT Ratu Gula Asia bergerak di bidang perkebunan tebu dan industri gula.