JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mencermati pergerakan pasar modal Indonesia di tengah eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu volatilitas pasar pada awal Maret 2026.
Pjs. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, OJK akan melanjutkan pemantauan pasar untuk mengantisipasi dampak konflik tersebut terhadap pasar modal domestik.
“Sehubungan dengan volatilitas pasar di awal Maret 2026 yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, OJK tentu terus memantau pergerakan pasar,” ujar Hasan dalam konferensi pers RDKB OJK Februari 2026 di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Selain pemantauan, OJK juga melakukan koordinasi dengan Self Regulatory Organization (SRO) Indonesia, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI). OJK turut berkoordinasi dengan pelaku industri pasar modal untuk menyiapkan langkah-langkah kebijakan yang diperlukan.
Hasan menjelaskan, tekanan di pasar saham domestik pada Februari 2026 terpantau mereda. Per 27 Februari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 8.225,49, terkoreksi 1,13 persen secara month to date (mtd) dan turun 4,76 persen secara year on year (yoy). Dari sisi aktivitas perdagangan, rata-rata nilai transaksi harian pada Februari tercatat Rp 25,62 triliun.
“Konsisten yang kita lihat selalu ada di atas Rp 25 triliun sejak bulan Agustus 2025 yang lalu,” kata Hasan.
Dari sisi investor asing, pada Februari 2026 tercatat net buy Rp 360 miliar, berbalik arah dibandingkan Januari 2026 yang masih mencatatkan net sell Rp 9,88 triliun.
Di pasar obligasi, indeks komposit ICBI per 27 Februari 2026 ditutup pada level 442,12, naik 0,45 persen (mtd) dan 0,29 persen secara year to date (ytd). Sementara itu, investor non-resident di pasar surat berharga negara membukukan net sell Rp 3,35 triliun secara month to date, sedangkan secara year to date tercatat net sell Rp 3,25 triliun.
Hasan menambahkan, di tengah dinamika pasar, industri pengelolaan investasi masih mencatat kinerja positif. Nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp 1.115,71 triliun per 26 Februari 2026, meningkat 1,11 persen (mtd) dan 7 persen (ytd). Adapun nilai aktiva bersih reksadana tercatat 726,26 persen, tumbuh 3,55 persen (mtd) yang ditopang net subscription selama Februari sebesar Rp 16,09 triliun (mtd).
Dari sisi jumlah investor, per 25 Februari 2026 tercatat penambahan 1,8 juta investor baru di pasar domestik, sehingga total investor mencapai 22,88 juta.
Sementara penghimpunan dana oleh korporasi di pasar modal hingga 27 Februari 2026 (ytd) mencapai Rp 30,52 triliun, yang bersumber dari penawaran umum efek bersih tak utang maupun suku.
Untuk penggalangan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF), per 26 Februari 2026 secara month to date terdapat 13 efek baru dengan nilai dana dihimpun Rp 23,65 miliar serta terdapat empat penerbit baru.
Di pasar derivatif keuangan, hingga 26 Februari 2026 terdapat 113 pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip dari OJK. Volume transaksi Februari 2026 secara month to date mencapai 29.514 lot dengan frekuensi transaksi 234.951 kali.

