Gelombang konflik di Timur Tengah mengguncang jaringan penerbangan internasional. Ratusan penerbangan dilaporkan dibatalkan, sementara sejumlah rute populer menuju kota-kota seperti Dubai, Tel Aviv, Doha, dan Abu Dhabi dihentikan. Dampaknya merembet ke jutaan pelancong global yang menghadapi perubahan jadwal hingga biaya perjalanan yang meningkat.
Sejumlah maskapai besar dunia memilih menangguhkan layanan ke titik-titik strategis di kawasan tersebut. Maskapai yang disebut terdampak antara lain British Airways, Lufthansa, Air France, Singapore Airlines, dan United Airlines. Penangguhan dilakukan dengan alasan keselamatan penumpang dan awak pesawat seiring meningkatnya risiko di wilayah udara yang berdekatan dengan zona konflik. British Airways bahkan memperluas pemangkasan layanan hingga musim panas 2026.
Penyesuaian juga dilakukan maskapai Asia. Air India dan Oman Air dilaporkan membatalkan penerbangan ke Dubai dan Abu Dhabi, serta mengalihkan penumpang ke bandara alternatif seperti Sharjah. Di saat yang sama, maskapai lain terpaksa melakukan pengalihan rute jarak jauh untuk menghindari wilayah berisiko, yang pada akhirnya memperpanjang waktu tempuh dan menambah beban operasional.
Bagi traveler, gangguan ini terasa langsung melalui pembatalan mendadak, penundaan, dan rerouting yang semakin sering terjadi. Harga tiket ikut terdorong naik karena rute alternatif lebih panjang. Salah satu contoh yang disebut adalah penerbangan Sydney–London yang mengalami kenaikan tarif hingga puluhan ribu poundsterling.
Untuk mengurangi kerugian penumpang, sejumlah maskapai menawarkan kebijakan travel waiver. Opsi yang diberikan mencakup pembatalan, pengembalian dana (refund), atau penjadwalan ulang tanpa biaya tambahan untuk rute-rute terdampak, termasuk yang terkait dengan DXB (Dubai) dan TLV (Tel Aviv).
Dampak gangguan penerbangan ini melampaui sektor perjalanan. Penutupan ruang udara dan pembatalan rute utama disebut memicu kerugian miliaran dolar bagi maskapai dan bandara, sekaligus memengaruhi harga minyak global, logistik, dan jalur perdagangan internasional. Di tengah meningkatnya risiko geopolitik, sentimen pasar melemah, sementara biaya operasional maskapai dan harga tiket turut terdorong naik.
Indonesia juga ikut merasakan efeknya. Sejumlah penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta (CGK) menuju Dubai, Doha, dan Abu Dhabi dilaporkan dibatalkan, sehingga memengaruhi ribuan penumpang dan calon wisatawan. Kondisi ini dinilai berpotensi menekan devisa dari sektor pariwisata serta meningkatkan biaya perjalanan bagi biro perjalanan yang bergantung pada rute Timur Tengah, termasuk untuk kebutuhan Haji dan Umrah.
Dalam catatan lain, pada puncak konflik disebut lebih dari 4.000 penerbangan harian dibatalkan di wilayah Teluk. Penutupan rute strategis juga tidak hanya berdampak di kawasan konflik, tetapi merambat ke penerbangan global akibat pengalihan rute yang panjang. Tingkat pembatalan saat ini bahkan disebut setara atau melebihi periode terburuk pandemi COVID-19.
Secara keseluruhan, konflik di Timur Tengah memicu gangguan besar pada penerbangan internasional: rute strategis dihentikan, penumpang terdampak luas, dan efek ekonomi mulai terasa lintas sektor. Bagi Indonesia, konsekuensinya terlihat dari pembatalan rute, kenaikan biaya perjalanan, serta potensi penurunan arus wisatawan.