BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan Minyak dan Guncang Pasar Global

Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan Minyak dan Guncang Pasar Global

Ketegangan dan serangan di berbagai titik di Timur Tengah memicu kekhawatiran baru di pasar global, terutama terkait risiko terganggunya pasokan minyak. Para pengamat menilai, bila konflik berlarut dan mengganggu jalur distribusi energi utama, dampaknya dapat menjalar ke inflasi, biaya produksi, hingga perlambatan ekonomi dunia.

Risiko terbesar yang disorot adalah potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Dalam skenario terburuk, situasi ini disebut dapat menyeret ekonomi global ke resesi, dengan harga minyak berpeluang menembus lebih dari US$100 per barel.

Pergerakan harga komoditas pada 2–3 Maret mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor. Minyak mentah Brent naik 10% menjadi sekitar US$80 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) di pasar AS meningkat 9% menjadi sekitar US$73 per barel. Pada saat yang sama, harga emas naik 3,4% menjadi US$5.426 per ons, seiring perpindahan investor ke aset yang dianggap lebih aman.

Analis independen Ross Norman menilai emas dapat menjadi indikator yang paling mencerminkan ketidakstabilan global. Ia mengatakan “termometer” ketidakpastian sedang naik dan pasar perlu bersiap menghadapi potensi kenaikan harga emas lebih lanjut di tengah era baru ketidakpastian geopolitik.

Salah satu titik perhatian utama adalah Selat Hormuz. Serangan di wilayah tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat mengganggu pasokan minyak Timur Tengah dan, jika berkepanjangan, memicu kenaikan harga bahan bakar. Kenaikan harga energi berisiko menimbulkan efek domino pada berbagai sektor ekonomi dan mendorong naik biaya produksi secara keseluruhan.

“Minyak adalah saluran yang vital,” kata Neil Shearing, kepala ekonom di Capital Economics. Sementara itu, Stephen Innes dari SPI Asset Management mengingatkan bahwa sekitar seperlima minyak dan gas alam cair (LNG) dunia mengalir melalui Selat Hormuz, yang ia sebut sebagai “arteri utama” sistem energi global.

Berbeda dari eskalasi sebelumnya, kali ini Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai sama-sama siap untuk terus meningkatkan eskalasi, sehingga memperbesar kemungkinan kekacauan berlanjut. Dalam kondisi seperti itu, para ahli memperingatkan harga minyak dapat terdorong lebih tinggi dan berpotensi melampaui US$100 per barel.

Kenaikan harga energi juga muncul di tengah kekhawatiran lain, seperti tingkat utang yang tinggi, isu independensi Federal Reserve (The Fed), serta risiko inflasi yang kembali meningkat di negara-negara ekonomi utama. Situasi tersebut dapat menghambat rencana penurunan suku bunga bank sentral dan mengguncang kepercayaan pelaku usaha.

Capital Economics memperkirakan harga minyak di level US$100 per barel dapat menaikkan inflasi global sekitar 0,6 hingga 0,7%. Ekonom James Knightley mengatakan kenaikan tajam harga minyak global dapat menciptakan kesulitan bagi konsumen dan bisnis di Amerika Serikat.

Ajay Rajadhyaksha, kepala riset suku bunga dan produk sekuritisasi di Barclays, memperingatkan bahwa pertumbuhan AS cenderung bergerak berlawanan arah dengan harga minyak. Ia menilai bila harga minyak naik menjadi US$120 per barel dan bertahan di level tersebut, ekonomi AS—dan ekonomi dunia—dapat mengalami guncangan signifikan.

Meski demikian, tidak semua analis berpandangan pesimistis. Sejumlah pihak menilai ekonomi global dalam setahun terakhir masih menunjukkan ketahanan meski dihadapkan pada berbagai guncangan. Innes McFee, kepala ekonom di Oxford Economics, mengatakan pertumbuhan ekonomi dan perdagangan global tetap sangat kuat terlepas dari rangkaian peristiwa geopolitik terbaru.

Ekonom Tomasz Wieladek menilai terlalu banyak guncangan terjadi dalam waktu berdekatan. Ia menyebut ada Venezuela, Greenland, tarif, dan kini Iran, semuanya dalam rentang dua bulan.

Di pasar keuangan, ketegangan militer antara AS, Israel, dan Iran menekan sentimen risiko. Indeks saham utama di Asia seperti Nikkei 225 Jepang dan Hang Seng Hong Kong melemah. Di Eropa, STOXX 600 turun hampir 2%, sementara indeks berjangka S&P 500 AS turun 1,5%.

Arus modal juga keluar dari saham-saham yang sensitif terhadap pertumbuhan. Saham bank-bank Eropa turun 3,6% karena kekhawatiran konflik berkepanjangan dapat memperlambat pemulihan ekonomi. Sektor penerbangan turun hingga 5% seiring lonjakan biaya bahan bakar dan lebih dari separuh penerbangan ke Timur Tengah dibatalkan. Saham teknologi di Eropa dan Asia turut melemah karena investor mengurangi kepemilikan aset berisiko.

Di tengah pelemahan pasar yang lebih luas, sektor energi dan pertahanan menjadi pengecualian. Indeks energi Eropa naik 4% ke rekor tertinggi baru, dengan saham BP dan Shell melonjak hampir 6% karena ekspektasi harga minyak yang tinggi berkelanjutan. Saham sektor pertahanan juga naik tipis 1,3% seiring spekulasi peningkatan belanja militer di tengah ketegangan.

Bitcoin bereaksi lebih hati-hati dibanding saham. Karena pasar kripto beroperasi 24 jam, harganya disebut langsung turun setelah AS memulai kampanye serangan udara terhadap Iran pada akhir pekan. Setelah penurunan awal, Bitcoin sempat pulih dan berfluktuasi di sekitar US$66.000 pada pagi 2 Maret (waktu AS), naik kurang dari 1% dari level sebelumnya namun masih jauh di bawah puncaknya sekitar US$126.000 pada Oktober.

Menurut Charlie Sherry, Chief Financial Officer di BTC Markets, sejak ketegangan dengan Iran meningkat, aset kripto cenderung “memberi jalan” kepada aset safe-haven tradisional. Ia menilai pada periode ketegangan geopolitik, modal lebih sering bergeser ke aset berwujud seperti emas dibanding aset berisiko yang volatil.