BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Guncang Pasar Energi dan Perdagangan, Emas Turun dan WTO Peringatkan Krisis

Konflik Timur Tengah Guncang Pasar Energi dan Perdagangan, Emas Turun dan WTO Peringatkan Krisis

Perkembangan ekonomi global pada 16 Maret 2026 didominasi dampak lanjutan konflik di Timur Tengah yang memasuki minggu ketiga. Gangguan pasokan energi, kekhawatiran terhadap jalur pelayaran strategis, serta respons kebijakan dari negara-negara besar mendorong volatilitas di pasar komoditas, memicu perdebatan baru soal perdagangan, dan memperlebar tekanan biaya hidup di sejumlah negara berkembang.

Harga emas dunia dilaporkan turun di bawah US$5.000 per ounce pada pagi 16 Maret. Penurunan ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak mentah yang diperdagangkan sekitar US$99,91 per barel, setelah serangan terhadap infrastruktur energi utama pada akhir pekan. Kenaikan tajam minyak disebut menjadi faktor utama yang menekan emas, menyusul operasi militer Amerika Serikat yang menargetkan pusat ekspor minyak utama Iran dan memicu tindakan balasan dari negara Asia Barat tersebut.

Untuk meredam gangguan pasokan akibat konflik, Badan Energi Internasional (IEA) memutuskan segera melepaskan cadangan minyak strategis. IEA menyatakan cadangan di Asia dan Oseania akan dilepaskan dalam waktu dekat, sementara pasokan dari Amerika dan Eropa dijadwalkan mulai dilepaskan pada akhir Maret 2026.

Di ranah keamanan maritim, Gedung Putih menyampaikan rencana pembentukan aliansi multinasional guna mengawal kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi global. Presiden Donald Trump mengatakan ia telah meminta sekitar tujuh negara yang sangat bergantung pada minyak dari kawasan tersebut untuk mengirim kapal perang dan menekankan partisipasi mereka diperlukan demi melindungi kepentingan masing-masing.

Sementara itu, tekanan pada sistem perdagangan internasional juga menguat. Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Ngozi Okonjo-Iweala memperingatkan bahwa sistem perdagangan global sedang menghadapi krisis terdalam dalam 80 tahun terakhir. Ia menyebut langkah-langkah tarif sepihak Amerika Serikat telah memicu gangguan serius.

Di tengah ketegangan itu, muncul sinyal optimistis dari pembicaraan perdagangan Amerika Serikat dan Tiongkok di Paris. Para pejabat ekonomi tinggi dari kedua negara menggambarkan pertemuan sebagai “terbuka dan konstruktif”, serta membuka jalan bagi rencana kunjungan Presiden Trump ke Tiongkok pada akhir Maret. Pembahasan difokuskan pada area yang dinilai memungkinkan kesepakatan, termasuk pertanian, mineral penting, serta pembentukan mekanisme manajemen perdagangan bersama.

Dari sisi domestik, data dua bulan pertama 2026 menunjukkan pemulihan ekonomi China yang lebih kuat dari perkiraan, meski risiko baru muncul akibat konflik Timur Tengah. Indikator yang disebut lebih positif mencakup pertumbuhan produksi industri yang menjadi yang tercepat sejak September 2025, kenaikan investasi aset tetap yang tak terduga, serta peningkatan tajam penjualan ritel.

Di Amerika Serikat, Presiden Trump kembali menegaskan klaim bahwa ia memiliki “otoritas mutlak” untuk memberlakukan tarif baru, meskipun Mahkamah Agung sebelumnya menolak langkah tarif globalnya. Tak lama setelah putusan tersebut, ia menandatangani perintah eksekutif yang mengenakan tarif 10% pada impor. Pada saat yang sama, Trump mengkritik seorang hakim federal yang membatalkan panggilan pengadilan dalam penyelidikan yang menargetkan Ketua Federal Reserve Jerome Powell, dengan alasan keputusan itu bermotivasi politik.

Pergerakan aset juga menunjukkan perubahan preferensi investor. Di tengah konflik di Iran yang mendorong kenaikan aset tradisional seperti minyak dan logam mulia, Bitcoin tercatat bergerak dalam kisaran sempit. Sejak awal 2026, harga Bitcoin sebagian besar berfluktuasi antara US$60.000 dan US$75.000 per BTC dan telah turun lebih dari 40% dari puncaknya, menandai berkurangnya daya tarik relatif dibanding aset ekonomi tradisional yang sedang menguat.

Dampak sosial ekonomi konflik paling berat dirasakan negara-negara yang bergantung pada impor energi, terutama kelompok berpendapatan rendah. Kelangkaan bahan bakar dan lonjakan harga di Bangladesh, India, dan Pakistan dilaporkan menggerus pendapatan dan menyulitkan kehidupan sehari-hari bagi jutaan orang.

Di Eropa, para menteri energi Uni Eropa (UE) menggelar pertemuan untuk membahas opsi menghadapi kenaikan harga energi akibat konflik. Sejumlah negara anggota telah menerapkan pembatasan harga bahan bakar, sementara usulan restrukturisasi pasar listrik dan reformasi sistem perdagangan emisi UE ikut mengemuka. Namun, perbedaan pandangan di internal blok masih terlihat terkait sejauh mana intervensi pasar perlu dilakukan.

Rangkaian perkembangan ini menegaskan bagaimana konflik geopolitik dapat cepat menjalar ke pasar energi, perdagangan, dan biaya hidup, sekaligus memicu respons kebijakan yang berpotensi membentuk arah ekonomi global dalam beberapa pekan ke depan.