Kodim 0118/Subulussalam memberlakukan status Siaga Satu bagi seluruh personelnya untuk mengantisipasi dampak dinamika geopolitik global terhadap stabilitas keamanan di daerah. Kebijakan ini diambil menyusul meningkatnya tensi internasional yang dinilai berpotensi memicu kerawanan, baik pada skala nasional maupun lokal.
Peningkatan status kewaspadaan tersebut ditegaskan melalui Apel Gelar Pasukan yang dipimpin Komandan Kodim (Dandim) 0118/Subulussalam Letkol Inf. Eko Yudho Prayitno di Lapangan Makodim, Desa Kuta Tengah, Senin (2/2/2026). Sebanyak 100 personel dari berbagai unit disiagakan untuk memantau perkembangan situasi secara lebih intensif.
Letkol Inf. Eko Yudho Prayitno menyampaikan bahwa meski konflik internasional terjadi jauh dari Aceh, pengaruhnya dapat merambah melalui sentimen tertentu yang berpotensi dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab. Karena itu, kewaspadaan dini diprioritaskan untuk menjaga kondusivitas Kota Subulussalam.
“Walaupun konflik internasional tidak berdampak langsung terhadap wilayah kita, kita tetap harus meningkatkan kewaspadaan. Jangan sampai ada pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan situasi dengan menunggangi sentimen tertentu,” ujar Letkol Inf. Eko dalam amanatnya.
Selain aspek keamanan fisik, Kodim juga mencermati potensi gangguan stabilitas ekonomi akibat masalah distribusi energi global. Kenaikan harga minyak dunia dikhawatirkan dapat memicu praktik ilegal di lapangan, termasuk penimbunan bahan bakar, yang berpotensi meresahkan masyarakat.
Untuk merespons potensi tersebut, Dandim menginstruksikan jajaran agar memperkuat deteksi dini melalui pendekatan teritorial yang humanis. Personel di lapangan diminta lebih peka terhadap perubahan situasi sekecil apa pun di tengah warga binaan.
Dalam pelaksanaannya, Bintara Pembina Desa (Babinsa) disebut menjadi ujung tombak komunikasi sosial (Komsos). Mereka ditugaskan meredam provokasi serta memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh isu-isu yang belum terverifikasi.
Menutup arahannya, Dandim menekankan pentingnya sinergi aparat dan masyarakat sebagai fondasi ketahanan wilayah. Ia menyebut kemandirian warga dalam menghadapi krisis menjadi faktor penting agar daerah tidak mudah goyah oleh pengaruh eksternal.
“Bela negara bukan hanya tugas TNI dan Polri, tetapi tanggung jawab seluruh komponen bangsa. Ketahanan wilayah akan kuat apabila masyarakatnya mandiri, solid, dan tidak mudah terprovokasi,” katanya.

