BERITA TERKINI
Ketegangan Timur Tengah Guncang Energi dan Penerbangan, AS Diproyeksi Tambah 60 Ribu Pekerjaan, Swiss Siap Tahan Penguatan Franc

Ketegangan Timur Tengah Guncang Energi dan Penerbangan, AS Diproyeksi Tambah 60 Ribu Pekerjaan, Swiss Siap Tahan Penguatan Franc

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah pada 2 Maret 2026 memicu gejolak di pasar energi dan penerbangan global, sementara indikator ekonomi dari Amerika Serikat dan Swiss menunjukkan respons kebijakan serta perubahan arah pasar.

Di sektor energi, Qatar secara resmi menangguhkan produksi gas alam cair (LNG) di kompleks ekspor terbesar di dunia setelah serangan pesawat tak berawak oleh Iran. Peristiwa tersebut mendorong harga gas di Eropa melonjak lebih dari 50% dan mengguncang pasar energi global.

Dampak konflik juga merembet ke industri penerbangan. Tindakan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, disertai pembalasan Iran, menyebabkan pembatalan dan pengalihan penerbangan secara luas. Shan Saeed, kepala ekonom global di Juwai IQI, memperkirakan total biaya jangka pendek akan melampaui 1 miliar dolar AS jika penutupan penerbangan berlanjut. Ia menilai penjadwalan ulang penerbangan tidak hanya mengurangi konektivitas, tetapi juga membuat banyak aset penerbangan menganggur.

Sementara itu, dari Amerika Serikat, pasar tenaga kerja pada Februari 2026 diperkirakan kembali ke laju pertumbuhan yang lebih moderat dan berkelanjutan. Berdasarkan survei Bloomberg, ekonomi AS diproyeksikan menambah 60.000 pekerjaan pada Februari 2026—kurang dari 50% dibandingkan Januari 2026—dengan tingkat pengangguran diperkirakan stabil di 4,3%. Proyeksi ini muncul menjelang rilis laporan pekerjaan Februari 2026 pada 6 Maret.

Di Eropa, penguatan franc Swiss menjadi perhatian otoritas moneter. Bank Sentral Swiss (SNB) menyatakan pada 2 Maret siap melakukan intervensi di pasar valuta asing setelah konflik di Timur Tengah mendorong franc ke level tertinggi terhadap euro dalam lebih dari satu dekade. Pada sesi perdagangan pagi, euro turun ke 0,9037 franc per euro, level terendah sejak krisis “guncangan franc” pada Januari 2015.