BERITA TERKINI
Ketegangan Geopolitik, AI, dan Krisis Iklim Diproyeksi Membentuk Lanskap Global 2026

Ketegangan Geopolitik, AI, dan Krisis Iklim Diproyeksi Membentuk Lanskap Global 2026

Sejumlah organisasi ekonomi dan keuangan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 melambat dibanding 2025, di tengah ketidakpastian yang masih tinggi. Meski demikian, ruang bagi terobosan tetap terbuka, terutama seiring akselerasi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) yang dinilai berpotensi mendorong produktivitas.

Dalam laporan penilaian 2026 yang diterbitkan pertengahan Desember, para pakar Chatham House menilai keamanan global akan terus berada di bawah tekanan akibat konflik berkepanjangan di sejumlah wilayah. Neil Melvin, Direktur Keamanan Internasional di Royal United Services Institute (RUSI), menyebut ketidakstabilan geopolitik—yang menjadi tren sejak fenomena Arab Spring sekitar 2010—diperkirakan tetap menjadi ciri dominan pada 2026.

Ia memperingatkan situasi dapat menjadi lebih berbahaya jika konflik lokal tidak terkendali dan menyeret kekuatan besar ke dalam konfrontasi. “Apa yang kita saksikan hari ini adalah tren yang sangat mengkhawatirkan, yaitu, perkembangan yang mendorong kekuatan-kekuatan besar ke dalam konfrontasi yang lebih langsung. Ini adalah tren yang sangat mengkhawatirkan yang terjadi di berbagai wilayah di dunia dan dalam skala global,” ujarnya.

Ketidakpastian geopolitik tersebut kerap tercermin dalam proyeksi ekonomi. Dalam laporan Tinjauan Ekonomi Dunia yang terbit 2 Desember, Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sekitar 2,9% pada 2026, lebih rendah dari sekitar 3,2% pada 2025, sebelum diproyeksikan pulih menjadi sekitar 3,1% pada 2027. Dana Moneter Internasional (IMF) pada pertengahan Oktober juga menyampaikan proyeksi bernada hati-hati, dengan pertumbuhan 3,1% pada 2026.

Namun, sejumlah pengamat menilai prospek dapat membaik jika ada perkembangan kebijakan dan teknologi tertentu. Direktur Riset IMF Pierre-Olivier Gourinchas menyatakan beberapa faktor dapat “mencerahkan” prospek ekonomi, termasuk meredanya ketidakpastian kebijakan lewat perjanjian perdagangan bilateral dan multilateral yang disertai penurunan tarif. Ia juga menekankan potensi AI dalam meningkatkan produktivitas. “AI berpotensi meningkatkan produktivitas. Banyak orang sudah menggunakan AI dan dapat membuktikan manfaatnya,” kata Gourinchas.

Di sisi lain, AI juga memunculkan pertanyaan baru, mulai dari arah pengembangan dan regulasi global hingga sejauh mana manfaat ekonominya benar-benar terwujud. Istilah “gelembung AI”, yang semakin sering dibahas sepanjang 2025, disebut berpotensi menjadi kekhawatiran bagi perusahaan dan negara pada 2026.

Menurut Carl-Benedikt Frey, Profesor Muda di bidang AI di Oxford Internet Institute (Inggris), penggunaan AI saat ini cenderung stagnan atau bahkan menunjukkan penurunan. Ia menilai AI bisa menjadi teknologi hebat, tetapi industrinya dapat tidak menguntungkan karena kompetisi ketat, termasuk dari model sumber terbuka yang dikembangkan di Tiongkok. “Saat ini, kita melihat persaingan yang sangat kuat... yang akan menyebabkan keuntungan menurun,” ujarnya. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan apakah 2026 akan menjadi tahun AI “meledak” secara finansial, dan apa dampaknya bila gelembung investasi pecah.

Selain geopolitik dan teknologi, krisis iklim dipandang sebagai faktor utama lain yang membentuk dunia pada 2026. Sepanjang 2025, kerugian ekonomi global akibat cuaca ekstrem diperkirakan mencapai sekitar 135 miliar dolar AS, di luar korban jiwa. Para ahli memperingatkan kegagalan memasukkan risiko cuaca dalam perencanaan kebijakan dapat membuat negara lebih reaktif dalam merespons kerusakan.

Ana Yang, Direktur Pusat Lingkungan dan Masyarakat di Chatham House, memperkirakan fokus kebijakan iklim global akan bergeser secara bertahap dari pengurangan emisi menuju adaptasi. Tren tersebut juga banyak dibahas dalam Konferensi Para Pihak ke-30 (COP30) yang digelar di Belem, Brasil. Meski begitu, peneliti dampak iklim di Grantham Institute (Inggris) Emily Theokritoff menekankan bahwa dalam jangka panjang akar masalah tetap pengurangan emisi. “Sangat penting untuk mengurangi emisi guna memastikan bahwa peristiwa (iklim) tidak memburuk, karena adaptasi memiliki batasan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa berbagai peristiwa menunjukkan betapapun siapnya suatu pihak, dampak negatif sulit sepenuhnya dihindari.

Secara keseluruhan, para pengamat menilai tren utama yang terlihat pada 2025 kemungkinan besar berlanjut dan mendominasi 2026. Hasil akhirnya dinilai sangat bergantung pada kemampuan negara-negara menyesuaikan kebijakan, mendorong inovasi, serta memperkuat sistem multilateral yang pada 2025 menghadapi tantangan signifikan namun tetap menunjukkan ketahanan relatif.