BERITA TERKINI
Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat, AS Dorong Jepang dan China Turut Jaga Jalur Minyak Dunia

Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat, AS Dorong Jepang dan China Turut Jaga Jalur Minyak Dunia

Selat Hormuz kembali menjadi sorotan setelah ketegangan di kawasan itu meningkat dan memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Jalur laut sempit di Timur Tengah tersebut dinilai krusial karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasinya setiap hari.

Di tengah situasi yang memanas, Presiden Amerika Serikat mendorong negara-negara besar Asia—termasuk Jepang, China, dan Korea Selatan—untuk ikut berperan dalam menjaga keamanan Selat Hormuz. Washington menilai stabilitas jalur ini bukan hanya kepentingan negara-negara Barat, melainkan juga negara-negara Asia yang menjadi konsumen utama energi dari kawasan Teluk.

Selat Hormuz kerap disebut sebagai “arteri energi global”. Setiap hari, puluhan kapal tanker mengangkut sekitar 20 juta barel minyak dari negara-negara Teluk menuju berbagai wilayah dunia. Pasokan tersebut berasal dari produsen besar seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Selain minyak, selat ini juga menjadi rute penting perdagangan gas alam cair (LNG), terutama dari Qatar yang merupakan salah satu eksportir gas terbesar di dunia.

Kerentanan jalur ini juga menjadi perhatian. Lebar Selat Hormuz sekitar 30 hingga 40 kilometer, namun jalur pelayaran yang digunakan kapal tanker lebih sempit—hanya beberapa kilometer untuk masing-masing arah. Kondisi tersebut membuat arus pelayaran rentan terganggu, baik oleh risiko militer seperti ranjau laut, kapal perang, maupun serangan drone. Dalam situasi konflik, gangguan kecil sekalipun dapat menghambat pergerakan kapal tanker.

Negara-negara Asia disebut sebagai pihak yang paling bergantung pada kelancaran Selat Hormuz. Sebagian besar minyak yang melewati selat ini dikirim ke Asia, terutama ke China, Jepang, Korea Selatan, dan India, untuk menopang kebutuhan industri, transportasi, hingga pembangkit listrik. Ketergantungan inilah yang menjadi dasar dorongan Amerika Serikat agar negara-negara tersebut ikut berkontribusi menjaga keamanan jalur pelayaran internasional itu.

Sejumlah analis energi menilai penutupan Selat Hormuz dapat memicu salah satu krisis energi terbesar dalam sejarah modern. Pasokan minyak global berisiko berkurang jutaan barel per hari dalam waktu singkat, yang berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dan memicu inflasi di berbagai negara. Dampaknya dapat meluas ke sektor transportasi, manufaktur, dan logistik global akibat meningkatnya biaya operasional.

Di sisi lain, Selat Hormuz juga dinilai memiliki potensi memicu eskalasi konflik militer yang lebih luas. Iran menguasai sebagian garis pantai di sisi utara selat dan disebut memiliki kemampuan untuk mengganggu jalur pelayaran. Jika ketegangan meningkat, negara-negara besar berpeluang mengerahkan kekuatan angkatan laut untuk memastikan jalur tetap terbuka.

Meski tampak kecil di peta—terletak di antara Iran dan Oman—Selat Hormuz memegang peran besar dalam keamanan energi dunia. Dengan sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur ini, stabilitas Selat Hormuz menjadi faktor kunci bagi pasar energi dan perekonomian internasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.