BERITA TERKINI
Ketegangan di Selat Hormuz Guncang Pasar: Harga Energi Naik, Investor Beralih ke Aset Aman

Ketegangan di Selat Hormuz Guncang Pasar: Harga Energi Naik, Investor Beralih ke Aset Aman

Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menangani sekitar 20% pasokan minyak dunia, mendadak menjadi pusat perhatian pasar global setelah meningkatnya ketegangan militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dalam situasi yang berkembang cepat, perusahaan energi dan pedagang komoditas menyesuaikan langkah dengan membatasi kapal melintasi area yang dinilai berisiko serta mempertimbangkan perubahan rute.

Dampaknya langsung terasa di pasar keuangan. Tekanan tidak hanya berasal dari kenaikan harga minyak, tetapi juga dari penilaian ulang terhadap rantai pasokan yang lebih luas—mulai dari biaya bahan bakar ritel, tarif pengiriman, hingga pengelolaan portofolio investasi. Titik sempit di peta yang selama ini dipandang sebagai jalur logistik kini berubah menjadi variabel yang berpotensi menimbulkan efek berantai pada sistem keuangan global.

Dalam konteks pasar, risiko geopolitik sering kali dihargai bahkan sebelum gangguan fisik benar-benar terjadi. Analisis Barclays menyoroti bahwa meski aliran minyak mentah belum melambat, ketidakpastian di Timur Tengah mendorong perusahaan pelayaran menanggung biaya tambahan seperti premi asuransi yang lebih mahal, penyesuaian rute, atau pengurangan kecepatan berlayar. Biaya yang tidak selalu tampak ini disebut turut mengerek harga minyak mentah Brent dari sekitar US$71 menjadi hampir US$73 per barel dalam waktu singkat.

Barclays juga mengingatkan bahwa pasar komoditas bergerak pada “margin”, sehingga gangguan kecil di ujung rantai logistik dapat memicu volatilitas besar. Jika pasokan benar-benar turun sekitar 1 juta barel per hari, ekspektasi kelebihan pasokan dapat runtuh dan membuka peluang Brent bergerak menuju US$80 per barel.

Risiko tidak berhenti pada minyak. Eropa memantau pengiriman LNG dari Qatar yang melewati Selat Hormuz. Apabila krisis mendorong negara-negara Asia meningkatkan penimbunan, Eropa berpotensi harus membayar lebih mahal untuk bersaing memperoleh pasokan. Kombinasi tekanan psikologis dan hambatan logistik ini dinilai dapat memengaruhi tagihan listrik rumah tangga, menekan margin industri, serta memicu kembali tekanan inflasi.

Di tengah ketidakpastian, arus modal defensif menguat. Indeks volatilitas VIX di Wall Street—sering disebut sebagai ukuran “ketakutan” pasar—dilaporkan meningkat sekitar sepertiga sejak awal tahun. Kondisi ini menambah rapuh pasar saham global yang sebelumnya sudah tertekan oleh kebijakan tarif baru Presiden AS Donald Trump serta aksi ambil untung pada saham teknologi.

Sejumlah aset yang dianggap aman mengalami penguatan. Emas mencatat kenaikan sekitar 22% sejak awal tahun 2026 dan terus menyentuh level tertinggi baru. Franc Swiss naik 3% terhadap dolar AS, mempertegas statusnya sebagai safe-haven sekaligus menantang bank sentral Swiss. Sebaliknya, bitcoin dinilai semakin kehilangan citra sebagai “emas digital”: harganya turun 2% saat kabar buruk muncul dan telah melemah lebih dari 25% dalam dua bulan.

Di pasar mata uang, shekel Israel berada di bawah tekanan setelah tindakan balasan dari Teheran. Meski sebelumnya sempat pulih cepat dari penurunan 5%, ahli strategi JPMorgan memperingatkan situasi dapat memburuk bila konflik berlanjut dan premi risiko nilai tukar membengkak.

Dolar AS diperkirakan turut diuntungkan. Menurut analis Commonwealth Bank of Australia, posisi AS sebagai pengekspor energi bersih dapat menopang dolar bila harga minyak dan gas bertahan tinggi. Jika gangguan pasokan berlanjut, dolar disebut berpotensi mengungguli sebagian besar mata uang lain, kecuali yen Jepang dan franc Swiss.

Di bursa saham, dampaknya tidak merata. Sejumlah maskapai membatalkan penerbangan dan menghadapi kenaikan biaya bahan bakar, sementara saham perusahaan pertahanan Eropa dilaporkan naik sekitar 10% sejak awal tahun. Pasar Arab Saudi dan Dubai mengalami penurunan. Di Inggris, perusahaan eksplorasi komoditas skala kecil menghadapi tekanan karena selera risiko menurun, membuat proyek yang dinilai menjanjikan pun kesulitan pendanaan.

Di tengah banjir informasi, investor individu dihadapkan pada tantangan untuk tidak terombang-ambing oleh judul berita yang sensasional. Harga komoditas seperti minyak atau perak dapat berbalik cepat seiring perubahan sinyal diplomatik. Ketika negosiasi menunjukkan tanda positif, “premi perang” bisa menguap dan harga minyak turun. Namun rumor gangguan terhadap kapal kargo saja dapat memicu lonjakan harga.

Karena itu, sebagian pelaku pasar menyarankan agar emas, perak, atau minyak dipandang sebagai “asuransi portofolio” alih-alih sarana mengejar keuntungan cepat. Perak, yang memiliki karakter hibrida sebagai logam mulia sekaligus bahan baku industri, dapat menguat pada awalnya tetapi berisiko jatuh bila ancaman inflasi berujung pada resesi. Minyak mentah pun dinilai sangat fluktuatif, terutama bagi investor yang menggunakan leverage dan rentan mengalami kerugian besar dalam satu sesi perdagangan ketika pergerakan berlawanan arah.

Alih-alih terjebak dalam spekulasi eskalasi konflik, pendekatan yang dianggap lebih bijak adalah meninjau kembali ketahanan neraca keuangan: menghindari pinjaman berleverage tinggi, bersiap menghadapi volatilitas pasar saham seiring perubahan suku bunga yang diperkirakan, serta menjaga lapisan lindung nilai mata uang.

William Jackson, kepala ekonom di Capital Economics, menilai risiko terbesar bukan semata lonjakan harga jangka pendek. Jika skenario terburuk terjadi dan harga minyak bergerak hingga sekitar US$100 per barel, hal itu disebut dapat menambah 0,6–0,7 poin persentase pada inflasi global. Pada titik itu, perekonomian dunia berpotensi menanggung biaya yang jauh lebih mahal akibat ketidakstabilan geopolitik.