Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memperingatkan ekonomi global berada di bawah “ancaman besar” akibat krisis energi yang dipicu perang berkelanjutan antara AS-Israel versus Iran dan negara-negara di kawasan Teluk lainnya. Birol menegaskan tidak ada negara yang akan kebal dari dampak kondisi tersebut apabila situasi terus memburuk.
Pernyataan itu disampaikan Birol pada Senin (23/3/2026) di National Press Club, Australia. Ia membandingkan krisis energi saat ini dengan krisis pada 1970-an serta dampak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
“Krisis ini, sebagaimana kondisinya sekarang, adalah gabungan dari dua krisis minyak dan satu keruntuhan gas yang terjadi secara bersamaan,” kata Birol seperti dikutip AFP News. Ia menambahkan, “Ekonomi global sedang menghadapi ancaman yang sangat, sangat besar hari ini, dan saya sangat berharap masalah ini dapat diselesaikan sesegera mungkin.”
Menurut Birol, dampak krisis tidak akan terbatas pada negara tertentu. “Tidak ada negara yang akan kebal terhadap dampak krisis ini jika terus berjalan ke arah ini. Oleh karena itu, diperlukan upaya global,” ujarnya.
Di tengah perang yang memasuki minggu keempat, Presiden AS Donald Trump dan Teheran saling melontarkan ancaman balasan. Trump mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran jika negara itu tidak membuka kembali Selat Hormuz yang diblokade. Iran membalas dengan ancaman menutup total Selat Hormuz dan menyerang infrastruktur desalinasi air di kawasan Teluk.
Selat Hormuz merupakan jalur transit sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas dunia. Penutupan selat tersebut dilaporkan telah menghentikan hampir seluruh pengiriman minyak mentah melalui jalur perairan sempit itu.
Ketegangan itu turut mendorong kenaikan harga minyak. Pada Senin pagi, harga minyak mentah acuan AS sempat menyentuh 100 dolar AS per barel.
Birol juga menyampaikan kepada media Australia bahwa setidaknya 40 aset energi di kawasan tersebut telah “rusak parah atau sangat parah” akibat konflik.