Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia seiring meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Isu penutupan jalur laut ini memicu kekhawatiran karena Selat Hormuz merupakan salah satu rute terpenting bagi perdagangan energi global. Pertanyaannya, bila penutupan benar terjadi, seberapa besar dampaknya bagi ekonomi dunia dan Indonesia?
Secara geografis, Selat Hormuz terletak di antara Iran di sisi utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di sisi selatan. Jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Meski relatif sempit, Selat Hormuz kerap disebut sebagai chokepoint paling krusial karena menjadi lintasan utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Diperkirakan sekitar satu dari lima barel minyak yang diperdagangkan lewat laut setiap hari melintasi selat ini, atau lebih dari 20% pasokan minyak global. Negara-negara produsen besar seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Iran mengandalkan Selat Hormuz sebagai rute utama ekspor.
Dalam lima tahun terakhir, volume minyak mentah dan kondensat yang melintas berada di kisaran 14–16 juta barel per hari. Pada 2022, volumenya sekitar 16 juta barel per hari, lalu turun ke sekitar 14,3 juta barel per hari pada 2024 dan sekitar 14,2 juta barel per hari pada kuartal pertama 2025. Sementara untuk produk minyak bumi lainnya, volumenya meningkat dari 4,8 juta barel per hari pada 2020 menjadi sekitar 5,9 juta barel per hari pada 2024 hingga awal 2025. Jika digabungkan, total arus energi yang melewati selat ini dapat mendekati 20 juta barel per hari.
Peran Selat Hormuz tidak terbatas pada minyak. Sekitar seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) dunia juga melewati jalur yang sama. LNG dari kawasan Teluk dinilai vital bagi pasar Asia dan Eropa. Meski ada pipa darat sebagai alternatif, kapasitasnya jauh lebih kecil dibandingkan volume yang biasa melintas lewat laut. Karena itu, gangguan di Selat Hormuz dinilai sulit ditutup dengan rute pengganti yang sepadan.
Posisi strategis tersebut membuat Selat Hormuz tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi instrumen geopolitik. Dalam berbagai periode ketegangan Iran dengan AS, ancaman penutupan atau blokade selat kerap muncul sebagai respons politik maupun militer. Dengan sekitar 20% minyak dunia melewati perairan ini, ancaman penutupan saja dinilai cukup untuk mengguncang pasar energi global.
Dalam beberapa insiden sebelumnya, risiko keamanan yang meningkat sempat membuat kapal-kapal tanker menumpuk di sekitar pelabuhan kawasan Teluk. Peringatan kepada kapal yang melintas juga pernah terjadi, menegaskan sensitivitas kawasan tersebut. Karena itu, Selat Hormuz kerap disebut sebagai “senjata” non-militer yang berbahaya: tanpa aksi militer terbuka, ketidakpastian di jalur ini dapat memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan risiko krisis energi global.
Jika Selat Hormuz ditutup, dampak paling cepat terlihat diperkirakan berupa lonjakan harga minyak. Gangguan pasokan sekitar 15–20 juta barel per hari dalam waktu singkat berpotensi mendorong harga naik tajam. Dalam skenario terburuk, harga minyak disebut bisa menembus level tertinggi dan berpotensi melampaui 100 dolar AS per barel apabila gangguan berlangsung lama.
Kenaikan harga minyak akan merembet ke harga bensin, solar, LPG, dan bahan bakar penerbangan. Biaya produksi industri diperkirakan naik, ongkos distribusi meningkat, dan tekanan inflasi global dapat menguat. Negara-negara pengimpor energi diproyeksikan merasakan dampak paling besar. Situasi dapat semakin berat jika pasokan LNG turut terganggu, karena dunia berisiko menghadapi krisis energi ganda—minyak dan gas sekaligus.
Dampak ini juga diperkirakan menjalar ke berbagai sektor industri, termasuk petrokimia, logam, pulp dan kertas, serta manufaktur, seiring meningkatnya biaya energi. Lonjakan harga energi dan produk industri pada akhirnya dapat menekan aktivitas ekonomi di banyak negara.
Bagi Indonesia, risiko terutama muncul karena kebutuhan minyak dan LPG masih sebagian dipenuhi melalui impor. Lonjakan harga minyak dunia berpotensi mendorong kenaikan biaya energi domestik, biaya transportasi, dan harga kebutuhan pokok. Tekanan inflasi global yang masuk ke dalam negeri juga dapat menekan daya beli masyarakat.
Sektor logistik dan pelayaran turut berisiko terdampak. Biaya asuransi kapal dapat meningkat, rute pengiriman bisa diperpanjang, dan tarif kontainer berpotensi naik. Dalam jangka lebih panjang, ketidakpastian yang berkepanjangan disebut dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global, termasuk Indonesia.
Sejumlah negara Teluk memiliki pipa alternatif menuju Laut Merah atau pelabuhan di luar Teluk Persia. Namun kapasitasnya dinilai terbatas dan tidak mampu menggantikan seluruh volume yang biasanya melewati Selat Hormuz. Di Indonesia, PT Pertamina (Persero) disebut menyiapkan skenario mitigasi jika terjadi eskalasi konflik Timur Tengah, termasuk opsi pengalihan rute kapal pengangkut minyak mentah melalui jalur yang lebih aman, seperti via Oman dan India. Diversifikasi sumber impor serta pemanfaatan cadangan energi strategis juga menjadi bagian dari strategi antisipasi.
Meski demikian, ketergantungan global pada Selat Hormuz tetap tinggi. Karena itu, stabilitas kawasan ini dipandang menjadi faktor krusial bagi keamanan energi dunia. Setiap eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memicu efek domino yang pada akhirnya terasa hingga harga BBM dan kebutuhan sehari-hari di berbagai negara.

