BERITA TERKINI
IPO 2026 Diperkirakan Tetap Berjalan, Namun Lebih Selektif di Tengah Sentimen Global

IPO 2026 Diperkirakan Tetap Berjalan, Namun Lebih Selektif di Tengah Sentimen Global

Prospek penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2026 diperkirakan tetap berlanjut, meski dibayangi tekanan sentimen negatif global. Sorotan MSCI terkait free float serta revisi outlook negatif Indonesia oleh Moody’s disebut membuat pasar memasuki fase yang lebih berhati-hati.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai aktivitas IPO tidak akan berhenti, tetapi akan berlangsung lebih selektif dibanding periode sebelumnya. Menurutnya, kondisi pasar saat ini lebih mencerminkan konsolidasi ketimbang ekspansi.

“Pasar saat ini berada dalam fase konsolidasi, bukan ekspansi. Fokusnya bukan lagi mengejar jumlah IPO, tetapi kualitas emiten dan struktur kepemilikan yang sehat,” ujar Liza, Jumat (20/2/2026).

Liza memperkirakan sebagian calon emiten berpotensi menunda pencatatan saham, terutama perusahaan yang sebelumnya mengandalkan momentum pasar atau memasang valuasi agresif. Namun, perusahaan yang membutuhkan pendanaan untuk ekspansi dinilai tetap akan melanjutkan rencana IPO, dengan penyesuaian harga yang lebih realistis.

Ia menilai situasi ini justru dapat berdampak positif bagi pasar modal karena IPO yang terjadi lebih didorong kebutuhan pendanaan dan kekuatan fundamental bisnis, bukan semata menjadi sarana exit bagi investor lama.

“IPO 2026 kemungkinan lebih sedikit, tetapi berpotensi lebih berkualitas. Ini lebih sehat bagi pasar dalam jangka panjang,” kata Liza.

Pengamat pasar modal Irwan Ariston menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai peluang IPO masih terbuka, tetapi investor akan semakin selektif dalam merespons emiten baru. Menurutnya, hanya perusahaan dengan model bisnis jelas, fundamental kuat, dan valuasi rasional yang berpotensi mendapat sambutan positif.

Irwan juga melihat kemungkinan sebagian calon emiten menunda pencatatan sambil menunggu stabilitas pasar. Di sisi lain, perusahaan dengan kebutuhan pendanaan strategis diperkirakan tetap masuk pasar dengan struktur valuasi yang lebih konservatif.

“Minat investor masih ada, tetapi pasar sekarang bukan takut IPO, melainkan takut IPO yang terlalu mahal,” ujarnya.

Irwan menambahkan, investor kini lebih memberi perhatian pada kualitas fundamental, likuiditas saham, serta keberlanjutan kinerja setelah IPO. Pola kenaikan harga singkat pada awal pencatatan yang kemudian diikuti koreksi tajam dinilai membuat investor lebih kritis.

Dari sisi sektor, analis menilai perusahaan dengan arus kas stabil cenderung lebih menarik di tengah volatilitas. Sektor consumer, kesehatan, energi, dan infrastruktur disebut memiliki daya tarik lebih kuat karena menawarkan stabilitas laba dibanding perusahaan dengan pertumbuhan agresif tetapi belum mencetak profit.

Investor juga diimbau lebih disiplin dalam memilih saham IPO, termasuk membandingkan valuasi dengan rata-rata industri, memperhatikan porsi free float, serta menghindari euforia pada hari pertama perdagangan.

“Jika pricing rasional dan struktur IPO sehat, pasar tetap akan menerima dengan baik. Sebaliknya, pasar akan menghukum cepat IPO yang dinilai overpriced,” kata Liza.

Sebagai gambaran, tren IPO Asia Tenggara sepanjang 2025 tercatat menunjukkan pemulihan. Laporan Deloitte bertajuk Southeast Asia IPO Capital Market 2025 Full Year Report mencatat total dana IPO regional mencapai US$6,5 miliar, naik 76% secara tahunan, meski jumlah perusahaan tercatat turun menjadi 120 emiten.

Peningkatan tersebut didorong oleh IPO berukuran besar yang mengangkat nilai rata-rata transaksi hampir dua kali lipat menjadi sekitar US$54 juta. Sektor real estat, energi dan sumber daya, serta jasa keuangan menjadi kontributor utama penghimpunan dana di kawasan.

Di Indonesia, sepanjang 2025 tercatat 26 IPO dengan total dana sekitar US$1,1 miliar, dengan sektor energi menjadi motor utama penghimpunan dana. Tren ini dinilai menunjukkan pergeseran minat investor ke IPO yang lebih besar dan memiliki fundamental lebih kuat.

Secara keseluruhan, analis menilai pasar IPO Indonesia pada 2026 berpotensi bergerak lebih sehat meski tidak seramai periode sebelumnya. Stabilitas pasar, valuasi yang realistis, serta kualitas fundamental emiten diperkirakan menjadi faktor utama penentu keberhasilan penawaran saham baru.

“Ke depan, pasar tidak lagi mengejar kuantitas IPO, tetapi kualitas. Itu yang akan menentukan keberlanjutan pasar modal Indonesia,” tutup Irwan.