JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memproyeksikan kinerja ekspor batu bara Indonesia berpotensi menurun dalam beberapa tahun ke depan. Proyeksi ini didorong oleh kecenderungan melemahnya permintaan dari negara tujuan utama ekspor, terutama China dan India, di tengah ketidakpastian geopolitik global yang kian kompleks.
Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi INDEF, Andry Satrio Nugroho, mengatakan dinamika global saat ini membuat proyeksi permintaan komoditas tidak sederhana. Berbagai peristiwa geopolitik yang terus muncul dinilai menjadi variabel baru yang harus diperhitungkan dalam membaca arah perdagangan global.
Meski demikian, INDEF menilai tren harga dan permintaan tetap menjadi indikator utama. Dari sisi permintaan batu bara, Andry melihat sinyal pelemahan permintaan ekspor mulai terlihat, khususnya dari dua pasar utama Indonesia, yakni China dan India yang selama ini menjadi pembeli terbesar batu bara Indonesia.
“Kalau batu bara sendiri, tentu kami melihat dari sisi permintaan, khususnya permintaan dari ekspor, memang kalau kita berbicara mengenai salah satu buyers kita dari China dan juga dari India begitu ya, ada arah penurunan, kecenderungan untuk menurun,” ujar Andry saat kegiatan Indonesia Weekend Miner di kawasan GBK, Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
INDEF juga menyoroti posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Kontribusi Indonesia terhadap produksi batu bara dunia berada di kisaran 8–9 persen. Menurut Andry, porsi tersebut belum cukup kuat untuk mempengaruhi harga global secara signifikan melalui kebijakan pembatasan produksi.
“Kita kurang lebih ada 8 mungkin sampai 9 persen menyuplai dari global production dari batu bara, tentu saja ini tidak cukup kuat, begitu berbeda dengan nikel misalnya,” ujarnya. Ia menambahkan, pembatasan pada komoditas lain seperti nikel dinilai lebih terlihat dampaknya terhadap harga dibanding batu bara.
Dengan kondisi tersebut, INDEF memandang potensi penurunan ekspor batu bara masih akan berlanjut. Dalam situasi ini, penguatan permintaan domestik dan percepatan hilirisasi dinilai menjadi kunci untuk menjaga kontribusi sektor batu bara terhadap perekonomian nasional. Andry menilai setiap negara kini semakin fokus mengamankan kepentingan domestiknya masing-masing.

