Dana Moneter Internasional (IMF) menyampaikan kekhawatiran atas dampak meningkatnya konflik di Timur Tengah terhadap ekonomi global, terutama melalui kenaikan harga energi dan gangguan perdagangan. IMF menilai situasi tersebut berpotensi memperparah ketidakpastian yang sudah membayangi perekonomian dunia.
Pernyataan itu muncul ketika perang terbuka antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel memasuki hari keempat. Perkembangan ini memicu kekhawatiran di kalangan pembuat kebijakan dan investor terkait potensi dampaknya terhadap pasar energi global, arus perdagangan, serta stabilitas keuangan.
Dalam pernyataan yang dipublikasikan di situs resminya, lembaga keuangan global yang berbasis di Washington tersebut menyatakan sedang memantau perkembangan di kawasan secara cermat. IMF menyebut indikasi awal menunjukkan krisis telah memengaruhi aktivitas ekonomi, khususnya melalui lonjakan harga energi dan meningkatnya volatilitas di pasar keuangan.
“Kami memantau dengan cermat perkembangan di Timur Tengah. Sejauh ini, kami telah mengamati gangguan terhadap perdagangan dan aktivitas ekonomi, lonjakan harga energi, dan volatilitas di pasar keuangan,” kata IMF.
IMF menilai situasi yang berkembang dapat memperburuk prospek ekonomi global yang sudah rapuh. Ekonomi dunia saat ini masih menghadapi tekanan inflasi yang berkelanjutan, perlambatan pertumbuhan di negara-butama, serta ketegangan geopolitik di sejumlah wilayah.
“Situasinya tetap sangat dinamis dan menambah ketidakpastian lingkungan ekonomi global,” kata IMF, seraya menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk menentukan konsekuensi ekonomi dari konflik tersebut.
Menurut IMF, besaran dampak ekonomi akan sangat bergantung pada lamanya konflik berlangsung dan sejauh mana konflik itu mengganggu jalur perdagangan penting serta rantai pasokan energi global.
IMF menyatakan penilaian yang lebih komprehensif mengenai potensi implikasi ekonomi dari konflik tersebut akan disampaikan dalam edisi mendatang Laporan Prospek Ekonomi Dunia yang dijadwalkan terbit pada April.

