Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,1 persen pada 2026. Perkiraan tersebut menempatkan Indonesia di atas proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan berada di kisaran 3,3 persen, meski perekonomian dunia menghadapi tren perlambatan.
Proyeksi IMF itu sejalan dengan gambaran umum bahwa ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan tetap bertahan di sekitar 5 persen. Sementara itu, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi nasional berada dalam rentang 4,9–5,7 persen.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai posisi Indonesia relatif masih cukup baik dibandingkan kondisi global. Ia mengatakan jika melihat kinerja ekonomi global dan posisi Indonesia, kondisi Indonesia dinilai tidak terlalu buruk.
Namun, Josua menambahkan pertumbuhan Indonesia masih berada di bawah sejumlah negara lain. Ia mencontohkan India yang disebut memiliki pertumbuhan 7–8 persen, serta Vietnam yang disebut sekitar 8 persen.
Di sisi lain, perlambatan ekonomi global tercermin dari penurunan proyeksi pertumbuhan di beberapa negara, termasuk China. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China turun dari sekitar 5 persen pada 2025 menjadi 4,5 persen pada 2026. Josua menilai perlambatan ekonomi China menjadi salah satu hal yang menonjol, dengan peluang pertumbuhan berada di bawah 5 persen.
Menurutnya, kondisi global yang melemah menjadi tantangan yang perlu diantisipasi. Ia menyebut, meski trajektori pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan dinilai masih meningkat atau berbalik, risiko dari tantangan global tetap perlu dimitigasi.
Selain faktor eksternal, Josua juga menyoroti tantangan domestik berupa keterbatasan ruang fiskal dalam jangka pendek. Ia menilai aspek tersebut perlu menjadi perhatian dalam upaya menjaga kinerja ekonomi ke depan.