Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan utang nasional Amerika Serikat (AS) berpotensi melonjak hingga 140% dari produk domestik bruto (PDB) dalam lima tahun ke depan. IMF menilai kondisi tersebut membuat Washington perlu segera menekan defisit fiskal serta mengatasi kesenjangan perdagangan dan defisit akun berjalan yang dinilai berlebihan.
Utang nasional AS saat ini disebut telah melampaui USD38 triliun, setara sekitar Rp635.572 triliun dengan kurs Rp16.725 per dolar AS. Dalam setahun terakhir, jumlah utang meningkat sekitar USD2,25 triliun, dan diproyeksikan mencapai USD39 triliun pada April.
IMF juga mencatat defisit anggaran federal AS meningkat dari sekitar USD1,4 triliun pada tahun fiskal 2022 menjadi sekitar USD1,8 triliun pada tahun lalu. Dalam pernyataannya setelah ulasan tahunan kebijakan ekonomi AS, Kepala IMF Kristalina Georgieva menyoroti besarnya defisit akun berjalan. Ia menyatakan defisit tersebut “terlalu besar” dan menekankan bahwa persoalan ini juga telah diakui oleh pemerintah AS.
Dalam tinjauan terbaru, IMF memproyeksikan utang publik AS dapat mencapai 140% dari PDB pada 2031 jika kebijakan saat ini berlanjut. IMF menilai kenaikan utang jangka pendek dan meningkatnya rasio utang terhadap PDB menambah risiko bagi stabilitas ekonomi AS maupun perekonomian global.
IMF menyatakan AS memerlukan rencana konsolidasi fiskal yang jelas untuk menempatkan utang pada jalur penurunan yang berkelanjutan. Selain itu, IMF mendorong AS bekerja secara konstruktif dengan mitra dagangnya untuk mengatasi kekhawatiran terkait praktik perdagangan yang tidak adil, serta menyepakati koordinasi dalam pembatasan perdagangan dan distorsi kebijakan industri yang berdampak lintas batas.

