BERITA TERKINI
IHSG Turun Lebih dari 2% Usai Pembukaan, Sentimen Konflik Iran Tekan Pasar

IHSG Turun Lebih dari 2% Usai Pembukaan, Sentimen Konflik Iran Tekan Pasar

Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah lebih dari 2% pada awal perdagangan Senin (2/3/2026). Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang dinilai memengaruhi psikologis investor di pasar modal domestik.

Pada pukul 09.15 WIB, IHSG tercatat turun 2,26% ke level 8.045,79. Meningkatnya risiko ketidakpastian global mendorong pelaku pasar melakukan penyesuaian portofolio, yang kemudian memicu aksi jual pada sebagian besar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dinamika penghindaran risiko (risk-off) terlihat dari daftar saham dengan penurunan terdalam (top losers) yang disertai nilai transaksi keluar yang cukup besar pada perdagangan pagi ini. Sejumlah saham mengalami koreksi tajam yang mendekati atau menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) harian.

Dalam daftar 10 saham dengan penurunan terdalam disertai nilai transaksi terbesar, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) memimpin pelemahan. Saham BNBR turun 9,81% dengan nilai transaksi mencapai Rp111,60 miliar. Besarnya nilai transaksi di tengah penurunan harga mencerminkan tekanan jual yang kuat.

Selain BNBR, tekanan juga terlihat menonjol pada saham-saham sektor media dan hiburan. Sejumlah emiten seperti PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT MD Entertainment Tbk (FILM), PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), hingga PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) mendominasi daftar pelemahan, dengan koreksi berkisar sekitar 9% hingga mendekati 12%.

Di luar sektor tersebut, saham TRUE, YELO, BELL, KOTA, dan IBOS juga tercatat mengalami tekanan jual. Kondisi ini menegaskan tingginya sensitivitas pasar domestik terhadap sentimen eksternal, terutama ketika tensi geopolitik meningkat.

Selama ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda, volatilitas di bursa domestik diperkirakan tetap tinggi. Pelaku pasar dinilai cenderung memprioritaskan upaya menjaga nilai modal (capital preservation) di tengah ketidakpastian.

Meski secara historis pada Juni 2025 penurunan pasar disebut hanya berlangsung sekitar dua hingga tiga hari, eskalasi saat ini dinilai lebih tinggi dan berpotensi memicu aksi jual lanjutan, seiring probabilitas memanasnya tensi geopolitik yang masih tergolong tinggi.

Catatan: Artikel ini merupakan produk jurnalistik berupa pandangan riset. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi tertentu. Keputusan sepenuhnya berada pada pembaca.