Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Senin, 2 Maret 2026, dengan tekanan kuat. Pada pembukaan sesi pertama, IHSG turun 1,73% atau 142,59 poin ke level 8.092,90.
Tekanan jual kemudian kian dalam. IHSG sempat menyentuh pelemahan hingga 2,25% ke posisi 8.050,39, mencerminkan aksi jual massal yang terjadi di hampir seluruh sektor.
Sentimen negatif dipicu eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, terutama meningkatnya ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Kondisi tersebut mendorong kekhawatiran pasar global, sehingga investor cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven serta mengurangi eksposur pada saham di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Tekanan di pasar terlihat luas hingga pertengahan sesi pertama. Sebanyak 575 saham tercatat melemah, sementara 53 saham menguat dan 88 saham stagnan. Aktivitas transaksi juga ramai, dengan volume perdagangan mencapai 1,29 miliar saham, frekuensi sekitar 125 ribu transaksi, dan nilai transaksi menembus Rp880,55 miliar dalam waktu kurang dari satu jam perdagangan.
Pergerakan tersebut menunjukkan volatilitas yang tinggi serta respons cepat pelaku pasar terhadap perkembangan global. Meski konflik terjadi di luar negeri, pasar modal Indonesia tetap terdampak karena keterkaitannya dengan arus modal internasional. Saat risiko meningkat, investor asing cenderung menarik dana dari emerging market.
Selain itu, pasar juga mencermati potensi gangguan distribusi energi di kawasan Timur Tengah, termasuk jalur penting seperti Selat Hormuz. Kekhawatiran ini dinilai dapat memicu kenaikan harga komoditas energi global. Kenaikan harga minyak berpotensi menekan inflasi dan meningkatkan biaya produksi emiten domestik.
Sejumlah analis memperkirakan IHSG masih akan bergerak volatil sepanjang pekan ini, bergantung pada perkembangan konflik dan respons pasar global. Penurunan indeks juga dinilai dapat berdampak lebih luas, mulai dari melemahnya kepercayaan investor yang berpotensi menahan ekspansi bisnis, tergerusnya nilai portofolio investor ritel yang dapat memengaruhi daya beli, hingga meningkatnya tekanan terhadap rupiah bila arus modal asing keluar.
Kondisi ini mengingatkan pada koreksi tajam IHSG pada Maret 2025, ketika indeks sempat merosot lebih dari 5% dalam satu sesi hingga memicu trading halt. Namun, pelemahan kali ini masih berada di kisaran 2% dan belum mencapai level ekstrem. Perbedaan utama terletak pada pemicu, di mana tekanan saat ini lebih didominasi faktor geopolitik eksternal.
Pelaku pasar kini menantikan respons lanjutan bursa Asia dan Wall Street, pergerakan harga minyak dan emas, serta potensi arus keluar modal asing. Jika konflik mereda, IHSG berpeluang mengalami rebound teknikal. Namun bila eskalasi berlanjut, tekanan jual dikhawatirkan kembali meningkat.
Pergerakan IHSG pada awal pekan ini kembali menegaskan peran indeks sebagai barometer utama kesehatan ekonomi Indonesia, sekaligus menunjukkan sensitivitas pasar domestik terhadap gejolak global yang dapat memengaruhi arah kebijakan dan strategi pelaku usaha maupun investor.

