Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam pada perdagangan Rabu (4/3/2026). Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan pelemahan tersebut dipicu eskalasi tensi geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang kian memanas.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy mengatakan, pelaku pasar khawatir terhadap potensi gangguan rantai pasok global, terutama sektor energi. Kekhawatiran itu muncul setelah Iran menutup Selat Hormuz, yang dinilai berisiko memicu krisis energi dan telah tercermin pada kenaikan harga minyak dunia.
“Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas, dan Iran menutup selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis energi. Hal ini sudah tercermin di harga minyak dunia yang meningkat,” ujar Irvan di Jakarta, Rabu.
Menurut Irvan, koreksi IHSG juga sejalan dengan pelemahan bursa saham di kawasan Asia. Sejumlah indeks regional disebut bergerak turun tajam, dan bursa Korea Selatan (Kospi) bahkan dilaporkan sempat mengalami penghentian sementara perdagangan (trading halt) setelah anjlok lebih dari 8 persen.
“Pergerakan IHSG sejalan dengan pergerakan indeks regional lain yang juga turun tajam, seperti Kospi, SET, Kosdaq, Nikkei, Taiwan TAEIX, ASX, dan Korea Selatan sempat mengalami trading halt setelah turun lebih dari 8 persen,” kata Irvan.
Berdasarkan data perdagangan pada Rabu (4/3/2026) pukul 11.11 WIB, IHSG tercatat melemah 251,47 poin atau 3,17 persen ke posisi 7.688,29.

