BERITA TERKINI
IHSG Turun 2 Persen ke 6.994,63, Tertekan Isu Fiskal dan Pelemahan Rupiah

IHSG Turun 2 Persen ke 6.994,63, Tertekan Isu Fiskal dan Pelemahan Rupiah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Senin (16/3/2026) sore. IHSG turun 142,58 poin atau 2,00 persen ke posisi 6.994,63.

Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai pelemahan IHSG dipengaruhi dua faktor utama, yakni meningkatnya tekanan terhadap fiskal dan melemahnya nilai tukar rupiah. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar saham Indonesia dalam jangka pendek karena investor global menjadi lebih selektif terhadap aset berisiko.

Elandry mengatakan dampak tekanan tersebut tidak dirasakan merata di seluruh sektor. Emiten berbasis komoditas energi dinilai berpeluang memperoleh sentimen positif dari kenaikan harga minyak, sementara sektor yang sensitif terhadap impor dan daya beli berpotensi menghadapi tekanan.

Dalam situasi seperti ini, ia menilai investor asing cenderung lebih berhati-hati, terutama jika tekanan terhadap fiskal dan rupiah meningkat. Kondisi tersebut, menurut Elandry, dapat mendorong sebagian investor global melakukan penyesuaian portofolio di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara itu, investor domestik disebut cenderung menilai kondisi secara lebih fundamental. Elandry menyatakan minat investor domestik biasanya tetap cukup kuat selama stabilitas ekonomi dan kredibilitas kebijakan fiskal terjaga.

Elandry juga menjelaskan tekanan terhadap fiskal Indonesia meningkat seiring lonjakan harga minyak global serta pelemahan rupiah. Pada perdagangan hari ini pukul 15.30 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat 98,53 dolar AS per barel dan Brent 105,60 dolar AS per barel.

Ia menilai kondisi tersebut berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), mengingat asumsi harga minyak dalam anggaran berada jauh di bawah harga pasar.

Meski demikian, Elandry meyakini secara fundamental ruang fiskal Indonesia masih relatif terjaga karena pemerintah masih memiliki sejumlah opsi penyesuaian. Opsi tersebut antara lain melalui pengelolaan belanja, optimalisasi penerimaan negara, serta pengaturan subsidi energi yang lebih adaptif.

Ia menambahkan, investor berharap pemerintah dapat menjaga kredibilitas fiskal di tengah tekanan global, terutama melalui disiplin pengelolaan defisit dan kebijakan subsidi energi yang lebih adaptif untuk menjaga kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.