BERITA TERKINI
IHSG Turun 18,79% Sepanjang 2026, Terburuk di Asia Pasifik

IHSG Turun 18,79% Sepanjang 2026, Terburuk di Asia Pasifik

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menjadi indeks bursa berkinerja terburuk di kawasan Asia Pasifik. Pada perdagangan Senin (16/3/2026), IHSG ditutup melemah 1,61% ke level 7.022,28.

Secara year-to-date, IHSG telah terkoreksi 18,79%. Kinerja ini bahkan lebih lemah dibandingkan indeks bursa India, S&P BSE Sensex Index, yang disebut telah turun 11,40%.

Tekanan pada IHSG juga dipengaruhi aksi jual investor asing. Sejak awal tahun hingga Senin (16/3/2026), investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 7,83 triliun.

Dari sisi global, sentimen yang memengaruhi pasar saham Indonesia dinilai tidak jauh berbeda dengan bursa regional. Salah satunya, tensi geopolitik di Timur Tengah yang masih tinggi dan mendorong kenaikan harga minyak.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai pelemahan IHSG bukan disebabkan satu faktor, melainkan kombinasi sejumlah sentimen negatif yang muncul dalam waktu berdekatan. Menurutnya, konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama karena memicu kenaikan harga energi dan meningkatkan ketidakpastian pasar global.

Selain itu, Ekky menyebut IHSG turut tertekan oleh isu MSCI terkait struktur pasar domestik serta penurunan outlook rating oleh lembaga pemeringkat global.

Ekky juga menilai pasar domestik saat ini tidak memiliki sentimen penahan penurunan seperti pada periode sebelumnya. Ia menyinggung bahwa di tengah isu MSCI dan penguatan regulasi dari otoritas pasar modal, ruang pergerakan saham-saham konglomerasi menjadi lebih terbatas.

Di saat yang sama, saham berkapitalisasi besar lain, termasuk sektor perbankan, disebut menghadapi tekanan sentimen setelah outlook beberapa bank diturunkan seiring meningkatnya persepsi risiko, termasuk faktor politik dan makro. Karena itu, Ekky menilai belum banyak alasan kuat bagi IHSG untuk segera berbalik naik dalam waktu dekat.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menambahkan pelemahan IHSG merupakan kombinasi tekanan global dan sensitivitas domestik, seperti energi, fiskal, dan dinamika pasar modal. Liza menyebut investor saat ini memandang pasar China sebagai alternatif yang lebih stabil dalam menghadapi guncangan energi karena tetap menjadi pembeli utama minyak Iran.

Ia juga mengutip sejumlah laporan internasional yang menyebut transaksi minyak Iran ke China banyak dilakukan menggunakan Chinese Yuan di luar sistem keuangan Barat.

Dalam catatan Kiwoom Sekuritas, price earning (P/E) IHSG berada di level 17,8 kali. Sementara itu, P/E Hang Seng berada di kisaran 13 kali dan P/E Shanghai Composite di level 19,56 kali.

Liza memperkirakan tekanan terhadap rupiah, obligasi, dan IHSG dapat berlanjut apabila harga energi tetap tinggi dan kebijakan BBM atau defisit fiskal perlu disesuaikan. Namun, jika konflik mereda dan harga minyak kembali stabil di bawah US$ 100 per barel, ia menilai sebagian tekanan terhadap pasar Indonesia berpotensi mereda dan IHSG berpeluang menguat dari area 7.000.

Dari sisi teknikal, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mencermati support kuat IHSG berada di level 7.000. Ia menyebut jika IHSG turun menembus level tersebut, level berikutnya dengan probabilitas 63% berpotensi menuju 6.890.

Sementara itu, Ekky menempatkan area support IHSG di kisaran 7.000, kemudian 6.800 hingga 6.500. Ia menilai apabila penurunan mencapai area 6.500, kemungkinan akan mulai banyak investor yang melihatnya sebagai area akumulasi yang menarik.