Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan perdana setelah libur panjang Idulfitri. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penguatan ini menjadi sinbol positif kembalinya kepercayaan investor, meski pasar sempat dibayangi kekhawatiran terkait memanasnya konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan data RTI Business, IHSG naik 1,09% ke level 7.182,38 pada pukul 11.35 WIB, Rabu (25/3/2026). Di awal perdagangan, indeks sempat berfluktuasi dan menyentuh level terendah 7.057,22 sebelum berbalik menguat dan bertahan di zona hijau hingga penutupan Sesi I.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan pergerakan IHSG tersebut mencerminkan sikap investor yang mulai memperoleh kepastian di tengah dinamika geopolitik global.
“Kita melihat IHSG tetap berada di teritori positif setelah masa libur panjang. Kami berharap ini cerminan dari kembalinya kepastian, terutama bagi investor yang mencermati perkembangan geopolitik terakhir,” ujar Hasan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (25/3/2026).
Hasan menambahkan, OJK akan terus memantau perkembangan global secara berkala. Menurutnya, volatilitas tinggi saat ini tidak hanya terjadi di pasar modal Indonesia, tetapi juga dirasakan bursa saham di berbagai negara akibat meningkatnya tensi di Timur Tengah.
Dalam situasi tersebut, OJK mengimbau pelaku pasar untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan investasi secara impulsif. “Investor diharapkan tetap tenang, mencermati setiap perkembangan, dan menyelaraskan keputusan dengan tujuan serta motif investasi masing-masing sebelum mengambil langkah terbaik,” kata Hasan.
Kembalinya IHSG ke level 7.100-an setelah Lebaran dipandang sebagai modal bagi pasar modal Indonesia memasuki kuartal kedua 2026. OJK berharap kondisi geopolitik membaik agar ruang pertumbuhan investasi menjadi lebih stabil ke depan.
Di sisi lain, para analis menilai ketahanan IHSG di zona positif turut ditopang fundamental ekonomi domestik yang dinilai tetap solid. Namun, pasar global masih bersikap wait and see terhadap realisasi gencatan senjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.