BERITA TERKINI
IHSG Jatuh Tajam hingga Trading Halt usai Pengumuman MSCI, Kepercayaan Pasar Jadi Sorotan

IHSG Jatuh Tajam hingga Trading Halt usai Pengumuman MSCI, Kepercayaan Pasar Jadi Sorotan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kejatuhan tajam pada Kamis, 29 Januari, setelah pasar dibayangi tekanan jual besar-besaran yang muncul menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) sehari sebelumnya. Pada awal perdagangan, IHSG sempat terkoreksi hampir 6 persen hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt). Tekanan kemudian berlanjut dan membawa indeks turun lebih dari 13 persen ke kisaran 7.700, dengan hampir seluruh saham tercatat mengalami tekanan jual, menurut analis pasar.

Meski pergerakan IHSG terlihat dramatis, penurunan kali ini dinilai bukan cerminan runtuhnya fundamental ekonomi Indonesia. Aktivitas ekonomi disebut tetap berjalan, perbankan beroperasi normal, dan perusahaan-perusahaan masih menjalankan kegiatan usaha. Namun, peristiwa tersebut berdampak besar pada aspek kepercayaan terhadap pasar modal.

Tekanan di pasar dipicu oleh pengumuman MSCI yang dirilis pada 28 Januari, lebih awal dari perkiraan pelaku pasar yang sebelumnya memperkirakan pengumuman keluar pada 30 Januari. Waktu rilis yang lebih cepat dinilai membuat pasar belum sepenuhnya siap, sementara kejelasan kebijakan dari otoritas disebut belum tersampaikan secara menyeluruh.

Sebelumnya, sebagian investor memperkirakan MSCI hanya melakukan penyesuaian free float dengan dampak yang baru terasa pada Mei. Namun, isi pengumuman tersebut dipandang lebih serius. MSCI menetapkan kebijakan interim freeze, yakni membekukan seluruh variabel indeks: tidak ada penambahan saham, tidak ada pengurangan, dan tidak ada rebalancing indeks pada Februari. Mekanisme itu dikunci hingga Mei.

Pelaku pasar menilai kondisi tersebut berpotensi menjadikan Februari sebagai periode minim katalis indeks. Aliran dana pasif yang selama ini menjadi salah satu pendorong reli saham pun terhenti sementara. Situasi ini membuat periode Februari hingga menjelang Mei dipandang sebagai fase krusial bagi pasar modal Indonesia, sekaligus ujian bagi otoritas dan pemangku kepentingan untuk memulihkan kepercayaan investor global.

Dalam pengumumannya, MSCI menyoroti isu terkait transparansi data kepemilikan saham. Data free float yang diterima dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di pasar. Informasi yang bersumber dari emiten, Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) disebut belum sepenuhnya sinkron, sehingga memunculkan ketidakpastian.

Masalah transparansi tersebut disebut telah menjadi perhatian sejak akhir 2025, termasuk melalui proses konsultasi metodologi free float yang berlangsung hingga Desember 2025. Namun, langkah korektif dinilai belum dilakukan secara tegas. Di sisi lain, pasar sempat berada dalam fase euforia dengan ekspektasi masuknya aliran dana MSCI, sebelum koreksi terjadi secara mendadak menjelang akhir Januari.

Praktik free float semu juga menjadi sorotan. Secara administratif, free float kerap dilaporkan berada di kisaran dua digit. Namun dalam praktik pasar, saham yang benar-benar beredar aktif sering kali jauh lebih terbatas. Kepemilikan saham masih terkonsentrasi melalui skema nominee dan proxy, sehingga harga relatif mudah digerakkan, tetapi berisiko tinggi bagi investor institusi yang membutuhkan likuiditas besar.

Ketika lembaga indeks global yang menjadi acuan dana investasi bernilai ribuan triliun rupiah mulai meragukan integritas data, dampaknya dinilai tidak hanya menekan saham tertentu, tetapi menjalar ke seluruh pasar. Dalam konteks ini, penurunan IHSG dipandang sebagai refleksi guncangan kepercayaan yang meluas di pasar modal Indonesia.