BERITA TERKINI
IHSG Ditutup Turun 0,96% ke 7.939, Sentimen Risk-Off Global Membayangi Pasar

IHSG Ditutup Turun 0,96% ke 7.939, Sentimen Risk-Off Global Membayangi Pasar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Selasa, seiring meningkatnya sentimen risk-off global di tengah eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan pelemahan bursa regional Asia.

IHSG turun 0,96% atau 77 poin ke level 7.939, dari penutupan sebelumnya 8.016. Indeks dibuka di 8.059 dan sempat menyentuh level tertinggi 8.098 sebelum tekanan jual mendorongnya turun ke terendah harian di 7.932.

Pelemahan pasar dipimpin sektor basic materials yang merosot 3,86%. Sektor transportasi turun 2,10%, sementara indeks BUMN (IDXMESBUMN) terkoreksi 1,78%. Di sisi lain, sektor industri menguat 0,59%. Indeks saham berdividen tinggi (IDXHIDIV20) dan IDXVESTA28 mencatat kenaikan tipis. Sektor energi relatif bertahan, dengan IDXENERGY naik 0,24% ke 4.254.

Tekanan di pasar domestik terjadi seiring melemahnya ekuitas Asia. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 7,24%, menjadi penurunan terdalam sejak Agustus 2024, sementara Nikkei 225 Jepang turun 3,06%. Di Tiongkok, indeks Shanghai melemah 1,43% dan Shenzhen merosot 3,07%. Hang Seng Hong Kong turut terkoreksi 1,12%.

Sentimen investor memburuk setelah pejabat militer Amerika Serikat menyatakan telah menghancurkan sejumlah fasilitas komando dan pertahanan Iran dalam operasi bersama Israel yang dimulai akhir pekan lalu. Perkembangan konflik ini juga mengganggu pasar energi global, termasuk penghentian produksi LNG Qatar serta gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang memicu lonjakan tarif pengiriman.

Penguatan dolar AS turut membebani aset berisiko. Strategis Rabobank menilai kinerja greenback mencerminkan kembalinya permintaan terhadap aset safe-haven. Pada saat yang sama, imbal hasil Treasury AS tenor dua dan 10 tahun naik sekitar 11 basis poin, menambah kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat memperumit tantangan inflasi bagi Federal Reserve.

Di tengah tekanan eksternal, regulator domestik berupaya menjaga daya tarik pasar. Otoritas Jasa Keuangan memprakirakan 70–75% emiten akan memenuhi ketentuan free float minimum 15% pada tahun pertama penerapan. Kebijakan ini menjadi bagian dari reformasi pasar modal menyusul peringatan MSCI terkait risiko penurunan peringkat.

Secara keseluruhan, pelemahan IHSG mencerminkan respons pasar terhadap meningkatnya ketidakpastian global, terutama risiko energi dan penguatan dolar AS yang berpotensi memperketat likuiditas. Dalam kondisi tersebut, sektor energi terlihat lebih resilien dibanding sektor lain.