Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, di level 8.271. Posisi tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 0,71 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Di tengah penguatan yang dinilai belum terlalu besar, arus dana asing mulai menunjukkan sinyal positif dengan catatan inflow Rp 221 miliar di pasar reguler.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai penguatan IHSG masih tertahan oleh sentimen global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kekhawatiran pasar muncul setelah Amerika dikabarkan akan segera melancarkan serangan terhadap Iran, sementara Iran dilaporkan berencana menggelar latihan angkatan laut bersama Rusia. Sebelumnya, Iran juga sempat menutup Selat Hormuz selama beberapa jam untuk latihan militer.
Selat Hormuz merupakan jalur penting perdagangan global karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut. Ketegangan di wilayah ini dinilai berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global, termasuk pasar saham Indonesia.
Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada keputusan Bank Indonesia yang menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia disebut tetap konsisten menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. Kebijakan menahan suku bunga dipandang diperlukan untuk menjaga inflasi tetap sesuai target 2026 sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk perdagangan 23–27 Februari 2026, David memproyeksikan IHSG bergerak dalam rentang support 8.200 dan resistance 8.400. Menurutnya, arah pergerakan indeks pekan ini akan sangat dipengaruhi perkembangan finalisasi pembahasan antara Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Reformasi pasar modal yang telah dipaparkan BEI dan OJK kepada MSCI—mulai dari pembukaan data 28 kelompok investor hingga target kenaikan free float minimum 15 persen pada Maret 2026—dipandang sebagai katalis penting untuk memulihkan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global.
“Jika transparansi kepemilikan saham di atas 1 persen berhasil diimplementasikan dengan tegas, kepercayaan investor asing diprediksi akan kembali pulih,” kata David, Senin, 23 Februari 2026.
IPOT menilai sentimen tersebut berpotensi menjadi penentu arah pasar dalam jangka pendek. Apabila finalisasi reformasi berjalan sesuai harapan, aliran dana asing diperkirakan kembali masuk dan mendorong IHSG menguji level resistance 8.400.
Namun, di tengah ketidakpastian global, IPOT tetap menyarankan investor menerapkan strategi selective dan defensive. Dengan kombinasi sentimen global dan domestik yang masih dinamis, pergerakan IHSG pekan ini diperkirakan fluktuatif. Investor disarankan disiplin dalam manajemen risiko serta mencermati perkembangan finalisasi BEI–OJK–MSCI sebagai katalis utama arah pasar selanjutnya.

