Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dalam rentang 8.133 hingga 8.300 di tengah meningkatnya tensi geopolitik akibat penutupan Selat Hormuz. Lonjakan harga minyak dunia dinilai memperkuat sentimen risk-off di pasar keuangan global.
Hendra menyampaikan, tekanan risk-off terlihat setelah harga minyak melonjak tajam. OIL WTI menguat ke level 69 atau naik sekitar 3,82 persen, sementara OIL Brent naik ke level 76 atau menguat 4,94 persen. Menurutnya, kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan, mengingat sekitar 30 persen distribusi minyak global melewati Selat Hormuz.
Ia menjelaskan, ketika jalur logistik energi terganggu, pasar cenderung menyesuaikan harga terhadap risiko suplai. Akibatnya, harga energi dapat naik lebih agresif dibandingkan aset berisiko lainnya.
Dalam situasi tersebut, investor global disebut cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk saham di negara emerging market. Hendra menilai aliran dana asing berpotensi keluar dalam jangka pendek dan memberi tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah, terutama apabila harga minyak bertahan tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Ia juga menyoroti potensi kenaikan risiko inflasi impor, khususnya bagi sektor yang sensitif terhadap biaya energi dan transportasi, apabila harga minyak tetap tinggi.
Dari sisi teknikal, Hendra menyebut level 8.133 sebagai support krusial. Jika level tersebut ditembus dengan tekanan jual yang kuat, area 8.000 dipandang sebagai support psikologis berikutnya. Sementara itu, resistance di 8.300 dinilai menjadi batas penting untuk melihat peluang rebound indeks di tengah tekanan global.
Di tengah potensi pelemahan indeks, sektor energi justru dinilai berpeluang menjadi penopang. Kenaikan harga minyak disebut dapat memberi sentimen positif bagi emiten hulu migas dan jasa penunjang. Hendra merekomendasikan Medco Energi Internasional (MEDC) buy dengan target 1.900, Energi Mega Persada (ENRG) sebagai trading buy dengan target 1.900, serta Elnusa (ELSA) trading buy dengan target 900. Untuk distribusi energi, AKR Corporindo (AKRA) dipertimbangkan sebagai speculative buy dengan target 1.400.
Menurut Hendra, volatilitas jangka pendek pada IHSG hampir tidak terhindarkan apabila eskalasi geopolitik berlanjut. Namun, ia menilai kondisi ini juga dapat membuka peluang selektif pada saham berbasis komoditas energi selama harga minyak bertahan dalam tren penguatan, dengan tetap menerapkan disiplin manajemen risiko.

