BERITA TERKINI
IHSG Berpeluang Lanjut Koreksi, Support Diproyeksi di 8.950–9.000

IHSG Berpeluang Lanjut Koreksi, Support Diproyeksi di 8.950–9.000

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpotensi melanjutkan koreksi pada perdagangan Kamis, 22 Januari 2026. Tekanan jual dinilai belum mereda setelah indeks mencetak rekor tertinggi pada sesi sebelumnya.

Pada penutupan perdagangan Rabu, 21 Januari 2026, IHSG turun 1,36% ke level 9.010,33. Pelemahan terjadi seiring aksi ambil untung (profit taking) setelah IHSG menguat lima hari berturut-turut dan menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah.

Phintraco Sekuritas menilai, koreksi IHSG turut diperburuk sentimen domestik setelah Presiden Prabowo Subianto mencabut izin 28 perusahaan di sektor kehutanan, perkebunan, energi, dan pertambangan karena pelanggaran lingkungan.

Dari sisi teknikal, Phintraco menyebut IHSG ditutup di bawah MA5, disertai penyempitan area positif MACD serta stochastic RSI yang bergerak turun dari area overbought. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang koreksi berlanjut dengan potensi pengujian area support di kisaran 8.950–9.000.

Tekanan jual tercatat terjadi cukup merata di lintas sektor. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, 9 dari 11 sektor melemah. Sektor industri mencatat penurunan terdalam sebesar 6,33%, diikuti sektor properti yang turun 3,44% dan sektor transportasi melemah 3,04%.

Adapun dua sektor yang menguat adalah sektor barang konsumen primer naik 0,58% dan sektor barang baku menguat tipis 0,14%.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menyebut pergerakan IHSG pada Rabu diwarnai volatilitas tinggi. Menurutnya, pelemahan terjadi seiring aksi profit taking.

Dari sisi kebijakan moneter, keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 4,75% dinilai belum menjadi katalis yang cukup untuk menahan koreksi. Fokus BI disebut lebih diarahkan pada stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Pelaku pasar juga mencermati sentimen eksternal, terutama pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada forum World Economic Forum (WEF) di Davos, serta rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang diperkirakan tumbuh 4,3% secara kuartalan (QoQ) pada kuartal III-2025. Proyeksi pertumbuhan tersebut mencerminkan momentum ekonomi AS yang dinilai solid, ditopang konsumsi rumah tangga, pemulihan ekspor, dan ekspansi belanja pemerintah.

Berdasarkan data RTI Business, frekuensi perdagangan saham pada Rabu mencapai 4,03 juta kali transaksi dengan volume 61,72 miliar saham dan nilai transaksi Rp34,23 triliun. Sebanyak 546 saham ditutup melemah, 179 saham menguat, dan 77 saham stagnan.

Di jajaran top loser, saham UNTR turun 14,93%, disusul REAL melemah 14,43% dan ARGO turun 13,52%. Sementara itu, saham ESIP menjadi top gainer setelah melonjak 34,52%, diikuti BELL dan INAI yang masing-masing menguat 34,46% dan 34,41%.

Untuk perdagangan Kamis (22/1/2026), Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham INCO, MEDC, EXCL, BRIS, dan HRUM sebagai pilihan trading.

Di kawasan Asia, pergerakan bursa ditutup bervariasi. Indeks Nikkei turun 0,41% ke level 52.774,64, indeks Hang Seng naik 0,37% ke 26.585,06, indeks Shanghai menguat 0,08% ke 4.116,94, dan indeks Strait Times melemah 0,38% ke 4.809,88.